Para da’i dan entitas dakwah berbeda dengan personafikasi profesi dan entitas selainya. Rumit dan menentukan. Para da’i itu adalah pilar terakhir, benchmark terakhir dan harapan terakhir ketika semua orang memandang semua sudah menjadi kelam. Semua kebenaran itu relatif, yang benar itu adalah yang kaya, yang benar itu adalah yang kuasa. Ketika keimanan kepada Tuhan sudah pada pada titik nadir. Ketika Tuhan itu tidak relevan keberadaannya, sehingga seorang manusia bisa mengatakan ia bisa berfungsi sebagai Tuhan.
Disitulah rumit dan khas nya peran para da’i. Mereka adalah bukti bahwa kebenaran itu tetap hadir dalam kondisi yang sangat kritis. Itu yang ditunjukkan Musa kepada kaumnya bahwa ketika keputus-asaan dihimpit oleh dua kekuatan membinasakan yang menyebabkan semua mahkluk menyangka Tuhan tidur, Tuhan tidak berpihak bahkan Tuhan tidak ada. Maka ia menjadi benchmark penuh keyakinan menghadirkan keniscayaan sebuah kemustahilan. Bahwa Tuhan itu ada, Tuhan itu berpihak dan Tuhan itu menghadirkan suatu kemustahilan lepas dari laut yang menenggelamkan dan memenangkan pertempuran tak berimbang berhadapan dengan kekuatan maha dasyat yang dalam kalkulasi kemanusiaan bukan saja tak mungkin dikalahkan tapi lebih dari itu niscaya untuk memusnahkan.
Itulah rumitnya menjadi da’i. Ia harus hadir dalam kondisi kritis di depan bukan bersembunyi dengan argumentasi apapun termasuk argumentasi darurat dan rukhsah. Itulah rumitnya menjadi da’i. Seorang Iman Ibn Hambal harus berjuang menjadi mercusuar di tengah gelapnya panduan kaum muslimin untuk mempertahankan kalimat yang sederhana saja “ bahwa al-qur’an itu bukan makhluk Allah”. Itu rumitnya menjadi da’i ketika ia harus mengorbankan dirinya dengan mempertahankan keyakinan dan kebenaran di bawah ancaman pedang ketika semua yang mengaku da’i-da’i dan ulama lainnya telah terkapar menyerah dengan argumentasi klasik kondisi darurat dan ada rukhsah di dalamnya apalagi ketika berurusan dengan keamanan jiwa.
Itu rumitnya menjadi da’i ketika seorang pemuda ashabul ukhdud mempertahankan keyakinannya bahwa Allah itu eksis, Allah itu bukan hanya ada, dia hadir dengan semua asma’ul husnaNya kepada semua manusia sehingga mereka tetap beriman kepada Yang layak disembah sebenarnya, bukan kepada manusia celaka yang beromong kosong mengaku sebagai Tuhan, dan meminta diperlakukan sebagai Tuhan. Itulah rumitnya menjadi da’i, menjadi terdepan ketika krisis itu, tidak sembarang orang bisa melakukannya, mengatakan tidak terhadap kebusukan dan pembusukan ketika semua orang telah tunduk dan mengatakan ya.
Itulah rumitnya menjadi da’i ketika ujian untuk membuktikan keda’ian itu dihadirkan Allah. Kalau engkau seorang pencari aman dalam kondisi kritis dan bahaya dengan beragam alasan dan argumentasi bisa jadi sesunguhnya engkau mungkin bukan seorang da’i .

Iklan