السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه وإخوان

Ikhwāni fīllah

Kita lanjutkan dengan surat “An Nās”.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ

“Katakanlah, Aku berlindung kepada Tuhan Yang Memelihara dan Menguasai Manusia.”

مَلِكِ النَّاسِ

“Yang merupakan Raja manusia.”

إِلَٰهِ النَّاسِ

“Merupakan sesembahan manusia.”

Allāh Subhānahu wa Ta’āla bersumpah dengan 3 hal:

⑴ Rabbinnās ↝Pencipta dan pemelihara manusia.
⑵ Malikinnās ↝Rajanya manusia/penguasa manusia.
⑶ Ilāhinnās ↝Sesembahannya manusia.

Berlindung dengan 3 (tiga) sifat Allāh, ada apa gerangan?

⇛ Ternyata berlindung dari syaithān.

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ

“Dari kejahatan bisikan syaithān yang biasa bersembunyi.”

⇛ Syaithān yang sangat berbahaya yang senantiasa, sebagaimana kita jelaskan sumpah Iblīs, yaitu untuk menyesatkan seluruh manusia.

Diantara anak buah Iblīs adalah syaithān.

الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ

“Yang membisikan kejahatan ke dalam dada manusia.”

⇛ Syaithān, sampai ke dalam dada manusia (membisik-bisikkan) mengajak orang untuk melakukan kejahatan.

Oleh karenanya, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِى مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ

“Sesungguhnya syaithān itu mengalir dalam tubuh manusia sebagaimana aliran darah.”

(Hadīts Riwayat Bukhāri 3/1195 (3107) dan Muslim 7/8 (5808))

Tatkala Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam i’tikaf, datanglah Shafiyyah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā (istri Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam) menjengguk di masjid.

⇛ Sehingga, boleh seorang suami tatkala sedang i’tikaf kemudian istrinya mengunjungi (ada keperluan).

Karena sudah malam, maka Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam keluar mengantar Shafiyyah ke rumahnya.

⇛ Ini adalah dalīl (kata para ulamā) kalau seorang keluar dari masjid meskipun i’tikaf karena kebutuhan mendesak (selama tidak lama), maka boleh.

Seperti :

√ Nabi keluar mengantarkan Shafiyyah ke rumahnya (rumah Shafiyyah tidak jauh) dan i’tikafnya tidak batal.
√ Seseorang i’tikaf di masjid lalu keluar mencari makan (setelah selesai hajatnya segera kembali ke masjid)

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam keluar membawa istrinya ingin diantarkan ke rumahnya. Tiba-tiba ada dua orang shahābat berjalan. Tatkala berjalan mendekati Nabi dan Shafiyyah mereka berjalan dengan cepat.

Tiba-tiba ada perubahan, jalannya menjadi cepat, mengapa jalannya cepat?

Kata Nabi, “Berhenti, berhenti.”

Mereka berhenti dan mengatakan:

“Subhānallāh, Yā Rasūlullāh, kami tidak jalan cepat, kami tidak su’uzhan.”

Seakan-akan mereka mengatakan demikian.

Kata Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

“Kalian sekarang tidak su’uzhan kepada kami, ini Shafiyyah, istriku. Kami keluar malam-malam berdua ini bukan siapa-siapa, ini istriku Shafiyyah.”

Kata mereka: “Subhānallāh, Yā Rasūlullāh, kami tidak menuduh apa-apa.”

Kata Nabi:

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِى مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ

“Sesungguhnya syaithān itu mengalir dalam tubuh manusia sebagaimana aliran darah.”

Dan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

“Saya khawatir syaithān akan melemparkan dalam hati kalian berdua sesuatu.”

Dalam riwayat Sharad:

“Aku khawatir syaithān melemparkan (memasukan) keburukan dalam dada-dada kalian.”

⇛ Artinya apa?

Awalnya mereka berdua tidak su’uzhan tetapi (mungkin) setelah lewat berapa lama mereka akan timbul su’uzhan. Dan begitu kerjaannya syaithān.

Oleh karenya, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyatakan, “Ini istriku, Shafiyyah,” untuk menghilangkan su’uzhan yang bakalan dilemparkan oleh syaithān.

⇛ Jadi di sini, kata para ulamā, dalīl kalau kita melakukan sesuatu perbuatan yang bakalan bisa menimbulkan orang berprasangka buruk, maka hendaknya kita jelaskan agar saudara-saudara kita tidak terjerumus ke dalam dosa berprasangka buruk kepada kita.

Jangan kita cuek, mereka mau ngomong apa terserah, jangan begitu. Sehingga kita menjadikan saudara kita terjerumus ke dalam su’uzhan (dalam dosa).

Oleh karenanya apabila kita mampu untuk menjelaskan bahwasanya kita tidak demikian, bukan yang sebagaimana anda maksud, maka ini lebih baik agar hati saudara kita lebih selamat. Sebagaimana Nabi mengatakan, “Ini istriku, Shafiyyah.”

⇛ Maka jangan bersu’uzhan, karena syaithān akan melemparkan su’uzhan kepada kalian di lain waktu.

Kenapa?

Karena syaithān mendikte dan membisikan dalam dada manusia.

Dan syaithān sering sekali mendikte terutama masalah su’uzhan.

Sering kali terjadi banyak pertikaian, perceraian, gara-gara salah sangka, buruk sangka. Suami buruk sangka kepada istri, Istri buruk sangka kepada suami.

Yang berperan siapa?

Syaithān.

Sebelum su’uzhan sebenarnya banyak sekali kemungkinan, ada 100 kemungkinan. Namun syaithān mendikte dia untuk memilih kemungkinan yang buruk.

Kata Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ

“Persangkaan merupakan perkataan yang paling dusta.”

(Hadīts Riwayat Bukhāri no 6064 dan Muslim no.2563)

الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ

“Yang membisikan kejahatan kedalam dada manusia.”

Dan kita tidak sadar ternyata dibisiki oleh syaithān.

Kemudian:

مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

“Dari kalangan jin dan manusia.”

Ada dua tafsiran dikalangan para ulamā.

Yang pertama, ada yang mengatakan:

“Minaljinnati wannas (dari kalangan jin dan manusia),” kembali kepada pembisik-pembisik, bahwasanya yang membisik-bisik itu ada jin dan ada manusia. Kalau manusia berbicara langsung.

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا

“Demikianlah kami jadikan dari setiap nabi musuh-musuh dari kalangan syaithān-syaithān, jin dan manusia.”

(QS Al An’ām: 112)

Saling membisik-bisikan perkataan-perkataan yang indah untuk menipu dan syaithān perkataannya indah.

Baik syaithān jin maupun syaithān manusia, akan datang membisiki kita.

Adapun syaithān jin, tidak kita sadari langsung masuk kedalam dada kita.

Dalam hadīts disebutkan bahwasanya tidak ada seorangpun kecuali Allāh jadikan qarin bagi dia (dari jin) yang akan membisik-bisikan keburukan kepada dia. Ada jin yang menyertai yang membisik-bisikan keburukan kepada hati manusia.

Jadi, tafsiran pertama bahwa “Minaljinnati wannas” (dari kalangan jin dan manusia) adalah pembisik-pembisik tersebut (syaithān-syaithān) dari kalangan jin dan kalangan manusia.

Tafsiran kedua mengatakan:

“Minaljinnati wannas” adalah tafsiran dari kalimat ” waswīsu fī shudūrinnās” (yang membisik-bisikan pada dada-dada manusia), yaitu yang dibisikin.

Aartinya manusia secara umum, baik manusia itu sendiri dan manusia yang artinya jin.

Disebutkan “manusia” disini adalah “mim bab taqlif” (yang terkena beban syariat, yaitu jin dan manusia).

Sehingga jin juga dibisik-bisikin.

⇛ Jadi ada jin yang baik. Kemudian datang jin yang buruk (syaithān) yang membisik-bisikin jin yang baik untuk menjadi jin yang buruk.

Sebagaimana manusia di bisik-bisikin oleh manusia yang buruk, jin juga di bisik-bisiki oleh jin syaithān.

Karena kita tahu jin ada yang baik dan jin ada yang buruk (syaithan).

Demikian wabillāhittaufīq.

والسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Iklan