Kejujuran Dalam Kepemimpinan

Ustadz Noorahmat Abu Mubarak

حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ حَدَّثَنَا أَبُو الْأَشْهَبِ عَنْ الْحَسَنِ قَالَ عَادَ عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ زِيَادٍ مَعْقِلَ بْنَ يَسَارٍ الْمُزنِيَّ فِي مَرَضِهِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ قَالَ مَعْقِلٌ إِنِّي مُحَدِّثُكَ حَدِيثًا سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ عَلِمْتُ أَنَّ لِي حَيَاةً مَا حَدَّثْتُكَ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

Abu Ja’la (ma’qil) bin Jasar r.a berkata: Saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda: Tiada seorang yang diamanati oleh Allah memimpin rakyat kemudian ketika ia mati ia masih menipu rakyatnya, melainkan pasti allah mengharamkan baginya surga. (HR Bukhari, Muslim)

Kejujuran adalah modal yang paling mendasar dalam sebuah kepemimpinan. Tanpa kejujuran, kepemimpinan ibarat bangunan tanpa fondasi, dari luar nampak megah namun di dalamnya rapuh dan tak bisa bertahan lama.

Demikian pula bila kepemimpinan tidak didasarkan pada kejujuran orang-orang yang dekat dan terlibat di dalamnya, maka jangan harap kepemimpinan itu akan berjalan dengan baik.

Kejujuran di sini tidak bisa hanya mengandalkan pada satu orang saja, kepada pemimpin saja. Akan tetapi semua komponen yang terlibat di dalamnya, baik itu pemimpinnya, pembantunya, staf-stafnya, hingga struktur yang paling bawah dalam kepemimpnan ini, mulai dari menterinya, pendukungnya hingga tukang sapunya, harus menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran.

Hal itu karena tidak sedikit dalam sebuah kepemimpinan, atau sebuah organisasi, terdapat pihak yang jujur namun juga terdapat pihak yang tidak jujur. Bila pemimpinnya jujur namun staf-stafnya tidak jujur, maka kepemimpinan itu juga akan rapuh. Begitu pula sebaliknya.

Kejujuran itu juga meliputi kejujuran dalam menyampaikan apa adanya terkait kondisi ataupun kebijakan ketata negaraan. Menyatakan salah bila memang pemimpin melakukan kesalahan. Sikap cari muka atau cari selamat yang dilakukan oleh siapapun di dalam sistem kepemimpinan akan merusak kepemimpinan itu sendiri.

Secara garis besar, yang sangat ditekankan dalam hadits ini adalah seorang pemimpin harus memberikan keteladanan yang baik kepada siapapun yang dipimpinnya. Konsisten dan komitmen kepada sumpah jabatannya dan berhati-hati dalam upaya ketaqwaannya kepada Allah Ta’ala.

Keteladanan ini tentunya harus diwujudkan dalam bentuk kebijakan-kebijakan serta keputusan-keputusan penuh perhitungan, tidak menipu dan tidak melukai hati rakyatnya yang membayar pajak.

Pemimpin yang menipu dan melukai hati rakyat, dalam hadits ini disebutkan, diharamkan oleh Allah untuk menginjakkan kaki di syurga. Meski hukuman ini tampak kurang kejam, namun sebenarnya hukuman “haram masuk syurga” ini mencerminkan betapa murkanya Allah terhadap pemimpin dan sistem kepemimpinan yang tidak jujur dan suka menipu rakyat.

Semoga negeri ini dilindungi dari keberadaan pemimpin-pemimpin buruk yang dilaknat Allah Azza wa Jalla. Bilapun pemimpin lterlaknat itu ada di sekitar kita, maka mari segera kita ingatkan pemimpin tersebut. Jauhi sikap cari muka atau cari jalan aman agar negeri ini tidak dipenuhi oleh orang-orang yang diharamkan masuk syurga

Iklan