بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله
Kaum muslimin yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla,
Al Isra’ dan Mi’raj adalah peristiwa besar, mu’jizat yang dialami Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam sebagai bukti bahwa Beliau adalah seorang utusan Allāh Subhānahu wa Ta’āla. 
Al Isra’ wal Mi’raj adalah gabungan dari 2 kata:
Pertama Al Isra’, dalam bahasa arab artinya adalah perjalanan di malam hari.
Maksudnya adalah Allāh memperjalankan Nabi-Nya di malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang Allāh sebutkan dalam Al Qur’an:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Maha suci Allāh yang telah memperjalankan hamba-Nya di malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang Allāh berkahi di sekitarnya agar Kami menampakkkan baginya tanda-tanda kebesaran Kami.”
(QS Al Isrā’: 1)
Kedua, adapun Al Mi’raj dalam bahasa arab artinya adalah naik, yaitu Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam diangkat oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dari Masjidil Aqsha menuju Sidratul Muntaha di atas langit yang ke-7. 
Inipun telah disinggung Allāh dalam Al Qur’an dalam surat An Najm:
وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى (١٣) عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى (١٤)
“Dan sungguh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam telah melihat malaikat Jibril dalam bentuk aslinya (yang memiliki 600 sayap dan kalau sayapnya dibuka akan menutup cakrawala) kedua kalinya tatkala di Sidratil Muntaha.”
(QS An Najm: 13-14)
Ini adalah dalil bahwa isra’ mi’jraj adalah perkara yang mendasar bagi kaum muslimin, karena tersebutkan dalam Al Quran. Apalagi dalam hadits Nabi banyak yang menyebutkan tentang kisah isra’ dan mi’raj ini.
Ada beberapa perkara yang ingin kita sampaikan.

▪Yang pertama yaitu kapan terjadinya Al Isra’ dan Mi’raj.
Tidak ada dalil yang tegas yang menyebutkan kapan terjadinya. Adapaun dalil yang datang tentang kapan terjadinya dan kapan bulannya semuanya adalah hadits dengan riwayat yang lemah, riwayatnya terputus.
Oleh karenanya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:
لم يقم دليل معلوم [[على ليلة الإسراء]] لا على شهرها ولا على عشرها ولا على عينها، بل النقول في ذلك منقطعة مختلفة ليس فيها ما يقطع به، ولا شرع للمسلمين تخصيص الليلة التي يظن أنها ليلة الإسراء بقيام ولا غيره 
“Tidak ada dalil yang jelas yang menunjukkan kapan terjadinya [[malam lailatil Isra’ dan Mi’raj]], tidak disebutkan juga kapan bulannya dan kapan harinya.
Adapun nukilan-nukilan yang menyebutkan tentang kapannya tersebut adalah terputus (sanadnya), terjadi perselisihan dan tidak ada dalil yang bisa kita pastikan.
Dan demikian juga karenanya tidak disyari’atkan bagi kaum muslimin untuk mengkhususkan suatu malam yang disangka sebagai malam Isra’ Mi’raj untuk melaksanakan shalat malam atau amalan tertentu.”
(Za’adul Ma’ad/1/57-58).
Hal ini dinukilkan juga oleh Al Qasthalani ( Syaikhul Islam menukil juga dari Syaikh Abu Umamah), beliau berkata:
وأما ليلة الإسراء فلم يأت في أرجحية العمل فيها حديث صحيح ولا ضعيف
“Adapun malam Isra’, tidak ada dalil yang menunjukkan untuk beramal khusus pada malam tersebut, baik hadits yang shahih maupun hadits yang dhaif.”
(Al Mawāhib Al Ladunniyah bil Minah Al Muhammadiyyah, juz 3 halaman 14)
Perhatikan di sini!
Oleh karenanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak menjelaskan kepada para shahabat kapan terjadinya.
Logikanya, kalau memang ada amalan khsusus, ada perayaan khsusus, ada ibadah khusus ada shalat malam khusus atau ada wirid khusus Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pasti akan menjelaskan kepada shahabat tentang keutamaan malam tersebut karena di balik penentuan malam tersebut ada ibadah.
Tatkala Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak menjelaskan kapan malam tersebut maka kita pahami bahwasanya di balik malam tersebut tidak ada ibadah khusus, sehingga Nabi tidak menjelaskan kepada para shahabat.
Bahkan tidak seorangpun dari shahabat yang menjelaskan kapan malam tersebut.
Tidak ada sanad yang shahih dari seorangpun shahabat, padahal jumlah shahabat begitu banyak, ribuan shahabat. Tidak seorangpun dari mereka menyebutkan kapan terjadinya malan Isra’ dan Mi’raj.
Dan sampai sekarang tidak ada dalil shahih, bahkan sampai hari kiamat tidak ada dalil yang shahih yang menunjukkan kapan terjadinya Isra’ dan Mi’raj.
Barang siapa yang mengatakan bahwasanya terjadinya pada hari ini. pada bulan ini maka itu hanya mengatakan dari kantong (pendapat) dia sendiri saja, bukan dari dalil.
Mungkin ada perkara yang menurut dia ada yang mengatakannya kemudian menganggap sebagai dalil, namun sebenarnya tidak ada dalilnya.
Oleh karenanya, pendapat tentang kapan terjadinya Isra’ saling bertabrakan (kontradiksi)’.”
Oleh karenanya ikhwān dan akhwāt yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, 
Ini adalah dalil bahwasanya Isra’ dan Mi’raj tidak diketahui kapannya dan tidak amal khusus yang bisa dilaksanakan pada malam tersebut.

Ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla,
Al isra’ wal Mi’raj kejadiannya dijelaskan oleh para ulama ahli sejarah adalah setelah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengalami berbagai macam kesedihan, yaitu:
– Setelah wafat istrinya, Khadijah radhiyalllāhu ‘anhā.

– Setelah wafat pamannya yang dia cintai, Abu Thalib.

– Kemudian, setelah beliau dakwah di Tha’if kemudian diusir dan dilempar dengan batu sehingga berlumuran darah.

– Tatkala shahabat-shahabatnya harus hijrah ke negeri Habasyah kerena mereka disiksa dan diintimidasi oleh orang-orang kafir Quraisy.
Isra’ mi’raj kata para ulama terjadi tatkala Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berada dipuncak kesedihan.
Dan ini sebagai tashliyah (hiburan) kepada Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bahwasanya Rabbnya tidak akan meninggalkannya dan Rabbnya akan menguatkannya.
Oleh karenanya, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam diangkat oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla menuju Sidratil Muntaha untuk bertemu dengan Allāh Subhānahu wa Ta’āla tanpa melalui perantara malaikat Jibril.
Yang biasanya Allāh memberi wahyu melalui malaikat Jibril, tapi kali ini Allāh langsung berbicara dengan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

▪Diantara perkara yang sangat menakjubkan adalah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berangkat dengan kendaraan Burāq. 
Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits-hadits yang shahih, Al Burāq yaitu dābbah (hewan tunggangan) yang berwarna putih dan ukurannya di bawah bighal namun lebih tinggi daripada khimar.
~~~~~~~~~

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:
أُتِيتُ بِالْبُرَاقِ وَهُوَ دَابَّةٌ أَبْيَضُ طَوِيلٌ فَوْقَ الْحِمَارِ وَدُونَ الْبَغْلِ
“Aku telah didatangi Buraq. Yaitu seekor binatang yang berwarna putih, lebih besar dari keledai tetapi lebih kecil dari bighal.” 
(Lihat HR Imam Muslim nomor 234, versi Syarh Muslim nomor 162)

~~~~~~~~~
Bighal adalah hasil persilangan antara kuda dan khimar. Ini adalah riwayat yang datang tentang Al Burāq. 
Adapun yang digambarkan oleh sebagian orang bahwa Burāq berwajah manusia atau berwajah wanita cantik dan yang lainnya, maka ini tidak benar. Seandainya ini benar tentunya akan datang dalam riwayat-riwayat yang shahih. Karena jika seperti itu (bentuk Burāq adalah hewan dengan kepala manusia) maka ini adalah mu’jizat tersendiri. Namun tidak disebutkan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
Burāq ini langkahnya begitu cepat dan langkah kakinya sejauh mata memandang, berapa jarak sejauh mata memandang itulah langkah kakinya.
Sehingga hal ini menjadikan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bisa cepat berangkat dari masjidil Haram ke masjidil Aqsha, dalam waktu yang sangat singkat, Subhānallāh.
Allāh mentakdirkan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak langsung diangkat dari dari masjidil Haram ke Sidratil Muntaha, padahal tujunnya ke sana. Tetapi Allāh Subhānahu wa Ta’āla membelokkan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam terlebih dahulu ke Baitul Maqdis (masjidil Aqsa) baru kemudian diangkat ke Sidratil Muntaha, ke atas langit yang ke-7. 
Kata para ulama, ada hikmah yang diinginkan Allāh Subhānahu wa Ta’āla, diantaranya adalah:
*Pertama*: untuk menunjukkan bahwasanya masjidil Aqsha adalah masjid yang mulia. 
Dan benar, bahwasanya 3 masjid yang kita dibolehkan unutk safar dalam rangka untuk mencari keberkahan tempat adalah 3 masjid tersebut dan semuanya dibangun oleh para nabi.
Masjidil Haram dibangun oleh Nabi Ibrahim ‘alayhi sallam, masjid Nabawi dibangun oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan masjd Aqsha dibangun oleh nabi Sulaiman atau nabi Dawud ‘alayhima sallam. 
Dan shalat di masjidil Haram pahalanya 100 ribu kali lipat, di masjid Nabawi 1000 kali lipat dan di masjidil Aqsha palahanya 500 kali lipat. 
Oleh karenanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:
لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ: مَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَمَسْجِدِيْ هَذَا، وَمَسْجِدِ اْلأَقْصَى.
“Tidak boleh mengadakan safar/perjalanan (dengan tujuan beribadah) kecuali ketiga masjid, yaitu: Masjidil Haram, dan Masjidku ini (Masjid Nabawi) serta Masjid al-Aqsha.” [7]
“Tidak boleh seseorang bersafar (berjalan jauh) dalam rangkah untuk mencari keberkahan tempat kecuali ke 3 masjid.”
(HR Al-Bukhari nomor 1197, 1864, 1995, Muslim nomor 827 dan yang lainnya dari Sahabat Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu). 
Tidak boleh seseorang, misalnya dari Jakarta kemudian ingin bersafar ke masjid Ampel di Surabaya dalam rangka mencari keberkahan di sana, ini tidak boleh, haram. Seakan-akan menjadikan saingan bagi 3 masjid yang dibangun oleh para nabi.
Tiga masjid tersebut spesial, boleh bersafar jauh dalam rangka mencari keberkahan di masjid tersebut.
Jadi, ini adalah penjelasan kenapa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dimampirkan oleh Allāh ke masjidil Aqsha yaitu dalam rangka untuk menunjukkan keutamaan masjidil Aqsha.
*Kedua*: kata para ulama, Nabi dimampirkan ke masjidil Aqsha karena pasti akan timbul pengingkaran dari orang-orang kafir tentang kejadian isra’ dan mi’raj, dan ini benar-benar terjadi.
Oleh karenanya, begitru Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam selesai pulang dari perjalanannya dari masjidil Haram ke masjidil Aqsha kemudian ke langit yang ke-7, maka ditemui oleh orang-orang kafir.
Kejadian ini sangat spektakuler dijaman tesebut. Di jaman tersebut mungkin sepeda saja belum ditemukan, apalagi mobil, apalagi pesawat. Kemudian ada orang yang mengaku berjalan dari Mekah menuju Palestina dalam waktu kurang dari satu malam dan sudah balik lagi.
Ini adalah perkara yang sangat mustahil di jaman tesebut. Di jaman sekarang saja aneh apa lagi jaman tersebut. 
Oleh karenanya sampai-sampai ada kaum muslimin yang murtad tatkala itu karena tidak bisa menerima secara akal apa yang dilakukan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
(Al Mustadrak 3/62)
Demikan juga orang kafir, mereka menjadikan hal ini sebagai bahan olok-olok. Mereka berkumpul ada yang bertepuk tangan mendengar berita tersebut. Mereka mentertawakan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
Namun akhirnya Allāh menunjukkan akan kebenaran peristiwa tersebut, maka diantara orang kafir ada yang bertanya:
“Kalau memang benar engkau pergi ke masjidil Aqsha, tolong ceritakan sifat-sifat masjidil Aqsha.”
Kita tahu bahwa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pergi ke masjidil Aqsha bukan untuk jalan-jalan sehingga tidak memperhatikan berapa jumlah pintunya, berapa jumlah jendelanya. Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam datang, shalat kemudian berangkat ke langit ke-7.
Akan tetapi kemudian Allāh Subhānahu wa Ta’āla menampakkan masjidil Aqsha di hadapan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, kemudian menyebutkan sifat-sifat masjid tersebut sebagaimana Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam melihat langsung.
Sampai akhirnya orang kafir yang pernah melihat masjidil Aqsha pun berkata:
“Adapun pensifatan Muhamad terhadap masjidil Aqsha adalah jujur dalam hal ini (telah benar).”
(Lihat HR Bukhari nomor 4341, versi Fathul Bari nomor 4710)
Sebagai bukti bahwa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah ke masjidil Aqsha, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak pernah ke sana selama hidupnya kecuali pada saat tersebut. 

Ikhwān dan Akhwāt yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

▪Pelajaran yang bisa kita ambil dari peristiwa al isra’ dan al mir’aj adalah banyak, diantaranya:
⑴ Menunjukkan akan mu’jizat yang Allāh berikan kepada Nabi-Nya untuk memuliakan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
Mu’jizat adalah suatu perkara yang di luar kebiasaan menusia. Kalau ada orang, misalnya orang kāfir mengingkari bagaimana Muhammad bisa pulang pergi di malam hari di zaman tersebut kurang dari satu malam, maka kita bilang itu karena kehendak Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Itulah yang namanya mu’jizat. Kalau harus masuk akal maka itu bukan mu’jizat. 
Maka tidak perlu kita berusaha menjelaskan di zaman tersebut dengan mengatakan, “Mungkin saja…, mungkin saja…”
Itu tidak perlu. Kita bilang saja itu memang di luar nalar, itulah mu’jizat.
Sebagaimana Nabi Īsā ”alayhissalām:
√ Bisa menyembuhkan (menghidupkan) orang mati.

√ Bisa menyembuhkan penyakit sopak.

√ Setelah mati bisa hidup lagi (sebagaimana keyakinan mereka) namun sebenarnya Nabi Īsā tidak pernah mati. 

√ Bisa berbicara waktu masih kecil.
Ini semua di luar nalar, namanya mu’jizat, kalau masuk akal itu namanya bukan mu’jizat, semua orang juga bisa kalau begitu.
⑵ Kisah ini menunjukkan akan pentingnya ibadah shalāt.
Kenapa? 
⇒ Karena untuk syari’at yang lain Allāh turunkan melalui malaikat Jibrīl.
⇒ Adapun wajibnya shalāt maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam langsung bertemu dengan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Sampai sebagian shahābat menyangka Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam melihat Allāh. 
Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam ditanya:
“Apakah engkau melihat Rabbmu?”
Kata Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:
“Ada cahaya yang menghalangi, bagaimana aku bisa melihat Allāh Subhānahu wa Ta’āla?”
Jadi, saking dekatnya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dengan Allāh sampai-sampai sebagian orang menyangka Nabi melihat Allāh. Padahal tidak! ada cahaya yang menghalangi antara Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dengan Allāh Subhānahu wa Ta’āla. 
Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam telah menjelaskan dalam hadīts dalam Shahīh Muslim:
تَعَلَّمُوْا أَنَّهُ لَنْ يَرَى أَحَدٌ مِنْكُمْ رَبَّهُ عَزَ وَ جَلَّ حَتَّى يَمُوْتَ
“Ketahuilah, kalian tidak akan bisa melihat Rabb kalian sampai kalian meninggal (baru bisa melihat Allāh Subhānahu wa Ta’āla).”
(HR Muslim nomor 2930, Mukhtashar Shahih Muslim nomor 2044, dari Sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhumā)
Ini menunjukkan bahwa shalāt adalah rukun Islam yang sangat penting, sampai Allāh memberikan langsung kepada Nabi tanpa perantara.
Kemudian, kalau kita perhatikan, ternyata shalāt ini (rukun islam) diwajibkan tatkala Nabi masih di Mekkah. 
Adapun zakat, puasa dan haji diwajibkan setelah Nabi di Madīnah tatkala kondisi Islam sudah menguat, keamanan sudah semakin stabil dan telah berdiri negara Islam.
Adapun ketika Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam masih diusir oleh kaumnya, masih disiksa tapi sudah Allāh turunkan kewajiban shalāt.
Kenapa? 
Karena shalāt merupakan kewajiban yang sangat penting, maka diwajibkan meskipun dalam fase Mekkah.
Perkara berikutnya yang nenunjukan pentingnya ibadah shalāt adalah :
Tatkala Allāh Subhānahu wa Ta’āla mewajibkan shalat kepada Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, awalnya diwajibkan 50 waktu dan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menerima saja waktu itu. 
Kemudian tatkala Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam turun ke langit yang ke-6 (ke bawah), Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bertemu dengan Nabi Musa ‘alayhi sallam dan Nabi Musa menasehati:
“Kaummu tidak akan mampu, karena setelah mencoba pada umatku mereka tidak mampu.”
Maka, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam kemudian naik lagi dan bertemu dengan Allāh Subhānahu wa Ta’āla di langit ke-7.
Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam meminta keringanan, kemudian Allāh turunkan (kurangi). Kemudian Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam turun, kemudian Nabi Musa menasehati lagi untuk minta keringanan lagi.
Terus Nabi bolak-balik sampai akhirnya diringankan menjadi 5 waktu. 
(HR Bukhari nomor 3598, versi Fatul Bari 3887)
Ini adalah diantara kebaikan Nabi Musa bahkan beliau perhatian dengan umat Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, sehingga akhirnya kita diwajibkan shalat 5 waktu dalam sehari semalam, padahal awalnya 50 waktu.
Para ulama menjelaskan, tatkala Allāh mewajibkan 50 waktu setiap sehari semalam, ini menunjukkan bahwa Allāh sangat cinta kepada ibadah shalāt.
Allāh ingin hamba-Nya selalu shalāt, 
Kenapa? 
Karena itu adalah ibadah yang sangat agung yang mendekatkan diri seseorang kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Kata Allāh dalam Al Qur’an:
 وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ
“Sujud dan dekatlah.”
(QS Al ‘Alaq: 19)

 

Semakin banyak sujud maka semakin dekat kepada Allāh. 
Kata Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:
إِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلاَّ رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً
“Tidaklah engkau sujud kepada Allāh satu sujud saja karena Allāh, kecuali akan Allāh angkat derajatmu dan Allāh akan menghilangkan dosa-dosamu.”
(HR Muslim nomor 488)
Dalam hadīts Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:
أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ
“Seseorang sangat dekat dengan Rabbnya tatkala sedang sujud (tatkala sedang shalāt).”
(HR Muslim nomor 482)
Shalāt adalah ibadah yang sangat dicintai Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Oleh karenanya, kita lihat ibadah yang paling banyak variasinya, yang paling banyak macam-macamnya adalah shalāt.
Kita perhatikan, shalāt fardhu 5 kali sehari semalam dan tidak ada ibadah yang berulang setiap hari semalam sebanyak 5 kali seperti shalāt.
Kemudian begitu banyak shalāt sunat yang disyari’atkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, shalāt rawatib, shalāt malam, kemudian shalāt taubat, shalāt dhuha, shalāt wudhu dan banyak sekali shalāt-shalāt yang diajarkan, kenapa? 
Karena Allāh suka kalau hamba-Nya sering shalāt.
Oleh karenanya seseorang yang beriman dengan kejadian isra’ dan mi’raj maka dia harus mengagungkan ibadah shalāt. 
Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan:
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ
“Jadikanlah shalāt dan sabar sebagai penolong kalian.”
(QS Al Baqarah: 45)
Dalam hadīts disebutkan:
كان إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى
“Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, kalau ada yang menggelisahkan (beliau) langsung shalāt.”
(HR Abu Daud nomor 1124, versi Baitul Afkar Ad Dauliyah nomor 1319. HR Ahmad nomor 22210)
Kenapa? 
Karena shalāt adalah sesuatu yang mententramkan hati seseorang, karena dia kontak langsung dengan Tuhannya yaitu Allāh Subhānahu wa Ta’āla, penciptanya yang memegang segala urusannya.
Oleh karenanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata kepada Bilāl:
يَا بِلَالُ, أَقِمِ الصَّلَاةَ ! أَرِحْنـــَا بِهَا
“Ya Bilāl, dirikanlah shalāt, istirahatkanlah kami dengan shalāt.”
(HR Abu Daud nomor 4333, versi Baituk Afkar Ad Dauliyah nomor 4985)
Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mendapati shalāt adalah tempat istirahat, shalāt adalah ketenangan. 
Dalam riwayat yang lain kata Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:
وَجُعِلَ قُرَّةٌ عَيْنِيْ فِيْ الصَّلَاةِ
“Dijadikan kesejukan pandanganku pada shalāt.”
(HR Imam Ahmad nomor 11845)
Tidak seperti sebagian orang yang justru shalāt adalah beban, tidak. Justru Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan para shahabat menjadikan shalāt adalah sesuatu yang mengistirahatkan mereka, mententramkan hati mereka, kenapa? 
Karena mereka kontak langsung dengan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Oleh karenanya Ikhwān , nasehat Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam sebelum meninggal dunia adalah:
“Perhatikanlah shalāt, perhatikanlah shalāt.”
~~~~~~~
 عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَهُوَ فِي الْمَوْتِ الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ فَجَعَلَ يَتَكَلَّمُ بِهَا وَمَا يَفِيضُ
“Dari ummu Salamah, bahwa menjelang wafat, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Perhatikan shalat, perhatikan shalat, dan berbuat baiklah kepada budak-budak yang kalian miliki.’ Beliau senantiasa mengucapkannya dan hampir saja (beliau) tidak bisa mengungkapkan.” 
(HR Imam Ahmad nomor 25502)

~~~~~~~
Dan terlalu banyak faedah serta dalil yang menunjukkan keutamaan shalāt.
Dan ingatlah, semakin banyak Anda sujud kepada Allāh maka kedudukan Anda akan semakin tinggi di sisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla, meskipun orang lain mungkin merendahkan Anda, mungkin menghinakan Anda. 
Sebaliknya, mungkin Anda dimuliakan orang karena harta Anda, karena kedudukan Anda, karena nasab Anda, tapi kalau Anda jarang shalāt maka Anda rendah dan hina di sisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

والله تعال أعلمُ بالصوا

Iklan