Pada 15 Maret 2016 lalu, saya menyampaikan sambutan di acara Workshop dan Advokasi Kota Layak Anak, di Komplek Universitas Negeri Padang (UNP), Air Tawar, Padang. Kota Layak Anak ini merupakan tindak lanjut dari komitmen dunia terhadap anak yaitu World Fit for Children yang diadopsi oleh Pemerintah Indonesia. Dan sejak tahun 2006 Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mengembangkan kebijakan Kabupaten/Kota Layak Anak. Tujuannya adalah untuk membangun sebuah sistem pembangunan anak yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan dalam dimensi kabupaten/kota dengan mensinergikan sumber daya pemerintah, masyarakat dan dunia usaha sehingga pemenuhan hak-hak anak di Indonesia dapat lebih dipastikan.Pada tahun 2015, 6 Kota di Sumbar telah mendapat penilaian dan penghargaan Kota Layak Anak, baik Tingkat Pratama maupun Tingkat Madya. Keenam kota tersebut adalah Padang, Pariaman, Padang Panjang, Bukittinggi, Payakumbuh dan Sawahlunto. Ada 31 indikator yang dinilai bagi kota/kabupaten untuk memenuhi kriteria layak anak. Indikator ini disarikan dari hak-hak anak yang ada di dalam UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan Keputusan Presiden No. 36 Tahun 1990.
Di luar itu semua, poin penting sebuah kota dinyatakan layak anak adalah masyarakatnya yang layak anak. Yaitu masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap hak-hak anak. Dan unsur terkecil dari masyarakat adalah keluarga yaitu orangtua. Maka keluarga layak anak akan menciptakan masyarakat layak anak dan selanjutnya terwujudlah kota/kabupaten layak anak. Sementara dari sisi pemerintah, membantu mewujudkan kota/kabupaten layak anak dengan menyediakan infrastruktur maupun sarana/prasarana serta kebijakan terkait.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda, “Akrimuu aulaadakum wa ahsinuu adabahum” yang artinya, “Muliakanlah anak-anakmu dan perbaiki adab-adab mereka.” (HR. Ibnu Majah). Betapa Islam memperhatikan soal anak ini hingga yang diminta adalah memuliakan anak. Selama ini kita lebih sering mendengar tentang memuliakan orangtua. Namun ternyata anak pun harus dimuliakan.
Mengapa anak perlu dimuliakan? Karena mereka adalah makhluk yang lemah. Anak lemah secara fisik. Anak juga masih lemah intelektualitasnya karena belum bisa berpikir matang. Anak juga belum memiliki kematangan mental. Berbeda dengan orang dewasa yang sudah kuat secara fisik, memiliki intelektualitas dalam berpikir dan kuat secara mental. Memuliakan anak lebih dari sekedar melindunginya ataupun mencegah terhadap bahaya yang akan timbul. Memuliakan anak adalah memenuhi hak-haknya dan mengaktualisasikan potensi dirinya.
Anak memang perlu mendapat perlindungan dari kekerasan karena mereka dalam posisi lemah. Sudah sering diberitakan banyaknya anak-anak yang mengalami kekerasan baik oleh orangtua atau kerabat, dan juga lingkungannya. Tidak sedikit anak-anak yang seharusnya menikmati masa bermain terpaksa harus bekerja membantu orangtuanya. Di samping itu, begitu mudahnya orangtua maupun orang dewasa memarahi anak, memperdayai anak dan memperlakukan anak semena-mena. Oleh karena itu, memuliakan anak lebih dari sekedar melindunginya atau mencegah dari kejahatan yang akan menimpanya, yaitu memenuhi haknya dan mengaktualisasikan potensinya.
Hak anak di antaranya adalah, bermain, memiliki waktu luang, tidur dan istirahat yang cukup, belajar (akses pendidikan), hidup sehat (akses kesehatan). Di samping itu mengaktualisasikan potensi anak adalah dengan menyalurkan bakatnya, mengembangkan minatnya serta mangasah kompetensinya. Dengan memuliakan anak, insya Allah mereka akan tumbuh kembang dengan baik dan meraih kesuksesan dalam hidupnya. Dan dampak dari memuliakan anak ini insya Allah akan kembali kepada orangtuanya.
Orangtua yang memuliakan anaknya, insya Allah anak-anak mereka kelak akan memuliakan orangtuanya. Baik ketika orangtuanya masih hidup di dunia maupun setelah orangtuanya meninggal. Rasulullah SAW bersabda, “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau doa anak yang soleh” (HR. Muslim no. 1631).
Semoga kita sebagai orangtua dan juga orang dewasa bisa menunaikan tugas yang mulia ini kepada anak, yaitu memuliakan anak. ***
Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar
Singgalang, 6 April 2016

Iklan