Beberapa waktu lalu sempat ramai dibicarakan orang tentang perceraian yang menjadi pemicu utama gangguan kejiwaan. Rumah tangga atau keluarga yang seharusnya menjadi ladang kebahagiaan ternyata berubah menjadi sumber ketidakbahagiaan yang menimbulkan keresahan bagi sebagian orang.Terkait masalah serius ini, salah satu lembaga yang memiliki peran besar menjaga keutuhan rumah tangga adalah Badan Penasehat Pembinaan Pelestarian Perkawinan (BP4). Dan pada hari Sabtu, 16 April 2016 lalu saya membuka Musyawarah Wilayah BP4 ini serta menyampaikan apresiasi kepada BP4 yang berperan besar dalam mengagalkan terjadinya perceraian dan juga membantu menyelesaikan konflik rumah tangga sehingga bisa membuat pasangan yang sempat berkonflik bisa kembali hidup harmonis.
Jika melihat data yang ada, angka perceraian di Sumbar termasuk tinggi. Bahkan angkanya di atas 10 persen dari peristiwa nikah, lebih tinggi dari rata-rata nasional yang tidak sampai 10 persen. Dari 43.813 peristiwa nikah di Sumbar pada tahun 2014, ada 6.325 kasus perceraian atau sekitar 14,4 persen. Menurut Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama RI Salman K. Memed, faktor penyebab perceraian 40 persen lebih disebabkan oleh kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) atau rendah pendidikan dan pengetahuan, 32 persen disebabkan ketidakharmonisan, dan 23,8 persen karena masalah ekonomi (Padang Ekspres, 28 Januari 2016).
Dengan melihat data tadi, munculnya perceraian bisa dikatakan karena tidak adanya kesepahaman antara suami dan istri. Ketidaksepahaman ini kemudian berujung konflik yang kemudian terjadi perceraian. Ketidaksepahaman yang tidak berujung konflik mengarah kepada ketidakharmonisan, yang bisa tetap berjalan namun tidak bahagia atau rumah tangga tidak berjalan baik, atau pada suatu saat ketidakharmonisan itu juga menyebabkan perceraian.
Ketidaksepahaman yang dialami oleh pasangan suami istri ini, bagi yang berusaha mencari jalan keluar melalui BP4 alhamdulillah bisa dicarikan solusinya sehingga bisa dimunculkan kesepahaman antara suami dan istri. Maka pasangan yang seperti ini tidak jadi bercerai, mulai membangun keharmonisan dan berusaha menjauhkan diri dari konflik. Dengan fakta yang demikian, fungsi BP4 sangat positif dalam menjaga keutuhan keluarga.
Sementara itu di sisi lain, setiap pasangan suami istri sudah seharusnya meningkatkan pemahaman terhadap peranan masing-masing dan juga pemahaman terhadap pasangan masing-masing, guna mencegah terjadinya konflik rumah tangga. Al Quran dan terutama Hadits begitu banyak menyebut bagaimana peranan suami dan istri dalam berumah tangga. Bahkan ayat-ayat dan hadits tentang rumah tangga ini banyak terdapat dalam buku-buku yang membahas tentang rumah tangga. Tidak sulit untuk mencari buku-buku tentang rumah tangga ini, karena penulis buku tentang ini cukup banyak sehingga berbagai judul buku tentang rumah tangga pun mudah diperoleh.
Ketika suami dan istri semakin banyak paham tentang peranan masing-masing dalam rumah tangga dan keluarga dan juga mampu memahami karakter, prilaku, kepribadian, pemikiran dan perasaan pasangannya, maka konflik bisa dihindari atau diminimalisir. Sehingga perceraian pun bisa dihindari. Kepahaman seperti ini menekankan pentingnya berpikir.
Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram (sakinah) kepadanya. Dan dijadikannya di antaramu rasa cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” (QS. Ar Rum:21).
Di ayat ini Allah SWT menyebut ‘kaum yang berpikir’ untuk urusan rumah tangga. Oleh karena itu, bagi suami istri dan kaum remaja yang kelak akan berumah tangga perlu meningkatkan pemahaman terhadap peran suami dan istri dalam rumah tangga agar terhindar dari konflik maupun perceraian. Allah mengajak kita berpikir, semakin jernih pikirian kita maka insya Allah akan semakin memahami bagaimana menjalani kehidupan rumah tangga.
Suami perlu memahami latar belakang istrinya yang beda dengan dirinya. Demikian juga istri. Jika suami dari keluarga militer dan istri dari keluarga sipil, keduanya harus bisa saling memahami agar tidak terjadi benturan atau konflik karena karakter keduanya pasti beda. Suami dari keluarga yang hidup di kota, istri dari keluarga yang hidup di desa, maka perlu saling memahami karena karakternya pasti berbeda. Suami dari suku Jawa dan istri dari suku Minang, keduanya perlu saling pengertian karena banyak perbedaan yang harus dipahami satu sama lain. Suami istri pada awalnya saling mengenal (taaruf) kemudian berlanjut dengan saling memahami (tafahum), saling tolong menolong (taawun) dan saling menanggung (takaful).
Ayat 21 dari surat Ar Rum di atas juga menjelaskan bahwa Allah SWT takdirkan berpasangan (azwajan) seorang laki dengan perempuan untuk menjadi suami dan istri. Dengan takdir (ketetapan) ini mesti dipahami pula bahwa suami harus menerima lebih dan kurangnya istri. Demikian pula istri yang harus menerima lebih dan kurangnya suami. Setiap pasangan suami istri kelak akan mengetahui bahwa tidak ada lelaki yang sempurna atau wanita yang sempurna karena pasti punya kekurangan. Yang jadi keharusan justru saling memahami akan kondisi suami atau istrinya. Jika suami atau istri belum bisa memahami hal semacam ini maka di sinilah peran penasehat perkawinan (BP4) mengedukasi pasangan suami istri dan mungkin juga mereka yang akan menjadi suami istri seperti pelajar dan mahasiswa.
Rasulullah SAW menyebut ‘baitii jannatii’ yang mencerminkan bahwa kebahagiaan itu adanya di keluarga (rumah) yang dimulai sejak ijab kabul hingga ajal menjemput. Oleh karena itu, marilah kita ciptakan keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah (baitii jannatii) dengan meningkatkan pemahaman kita kepada pasangan dan dalam berumah tangga. Dan bagi yang belum berumah tangga, bisa dengan mudah mencari buku-buku panduan berumah tangga. Dan semoga ke depannya BP4 bisa semakin menanamkan kepahaman kepada pasangan suami istri maupun mereka yang belum menikah sehingga angka perceraian bisa semakin diperkecil. ***
Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Iklan