Dakwah merupakan aktivitas yang sangat mulia dengan kebaikan dan keutamaan yang tiada tara. Tiada perkataan yang lebih baik selain dakwah sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’alaberfirman dalam Al Qur’anul Karim
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحاً وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushilat: 33)
Seorang Da’I yang ideal harus memiliki empat kredibilitas (misdaqiyah) untuk menunjang proses dakwah yang Ia lakukan. Empat kredibilitas tersebut adalah Misdaqiyah Ar ruhiyah(Kredibilitas Ruhani), Misdaqiyah Al Ilmiyah(Kredibilitas Keilmuan), Misdaqiyah As Syabiyah (Kredibilitas Sosial) dan Misdaqiyah Al Akhlaqiyah (Kredibilitas Akhlaq).

1. Misdaqiyah Ar ruhiyah (Kredibilitas Ruhani)
Ruhiyah merupakan sebuah kondisi yang menggambarkan tingkat kedekatan seorang hamba kepada Rabb-Nya. Sebuah kata yang mewakili seberapa besar tercurahkannya pikiran seorang hamba kepada pencipta-Nya. Ruhiyah adalah bekal terbaik bagi setiap muslim, terutama bagi seseorang yang telah mengazzamkan dirinya sebagai seorang dai. Ruhiyah bagi seorang muslim berperan sebagai motivator, penggerak, dan evaluator dari setiap perbuatan yang dilakukan oleh dirinya. Jika ruhiyah bagus kemauan dan kesadarannya berputar pada hal yang positif dan sebaliknya jika ruhiyahnya jelek maka kemauan dan kesadarannya akan berputar pada hal yang negatif.
Sebagai seorang Da’I kita harus senantiasa menjaga ketajaman ruhiyahnya sekaligus meningkatkan ruhiyah kita. “Barangsiapa yang memperbaiki bathinnya”, Kata Amirul Mukminin Umar bin Khaththab, “maka Allah akan memperbaiki lahirnya”
Seorang Da’I yang mempunyai Ruhiyah yang bagus, maka ia akan memancarkan aura kebaikan bagi sekitarnya. Seperti kisah seorang Tabi’in masyhur Imam Hasan Al Basri ketika masuk pasar, orang satu pasar menangis melihat beliau dikarenakan ingat kepada Akhirat. Pernah suatu hari pula, ada sepasang suami istri yang sedang ribut bertengkar dan tidak mengetahui bagaimana agar bisa damai kembali, atas dasar rekomendasi tetangganya pergi ke rumah Imam Hasan Al Basri untuk meminta nasehat. Akan tetapi, Imam Hasan Al Basri baru buka pintu saja pasangan suami istri tersebut sudah langsung berdamai. Hal ini bisa terjadinya karena Imam Hasan Al Basri memiliki Ruhiyah yang sungguh luar biasa bagusnya sehingga memancarkan aura kebaikan yang berefek positif terhadap orang lain.
Imam Ahmad bin Hambal, seperti yang diceritakan oleh Imam Dzahabi, ketika wafat satu juta mengitarinya. Enam ribu wanita mengantarnya karena daya tarik ruhiyahnya, padahal hukum wanita mengantar jenazah di kalangan ulama masih khilafiyah antara makruh dan haram. Ada yang memakruhkan secara makruh Tanziq seperti imam An Nawawi dan ada yang mengharamkan seperti kalangan addzhohiriyyah misalnya Imam Daud dan Imam Ibnu Hajm. Kemudian yang luar biasa, dua ribu orang masuk islam pada saat Imam Ahmad bin Hambal meninggal. Begitulah orang yang shaleh yang ruhiyahnya bagus, meninggalnya saja membawa manfaat apalagi hidupnya. Subhanallah.
2. Misdaqiyah Al Ilmiyah (Kredibilitas Keilmuan)
Seorang Da’i haruslah memiliki kredibilitas dalam keilmuan dan ini merupakan bekal yang sangat utama. Hujjah Al Balighoh (Argumen yang kuat dan mendalam) merupakan salah satu parameter dari da’I yang memiliki misdaqiyah al ilmiyah.  
Seorang da’I yang berkewajiban menyampaikan ayat-ayatnya, mengajarkan manusia tentang Islam, menyampaikan manusia tentang halal dan haram haruslah kita faham tentang ilmunya terlebih dahulu. Sebagaimana sebuah peribahasa Arab mengatakan Faaqidu asy-syai’i laa yu’ti syai’a yang memiliki arti orang yang tidak mempunyai apa-apa tidak akan mampu memberikan apa-apa.
Suatu hari seorang wanita menghadap Khalifah Umar bin Khattab dan melapor bahwa ia telah diperkosa. Sebagai bukti, wanita ini membawa dan memperlihatkan selimut yang dalam pengakuan sang wanita adalah sperma laki-laki yang memperkosanya. Khalifah Umar bin Khattab kemudian memanggil Ali bin Abi Thalib untuk menganalisis apakah sang wanita jujur atau tidak. Ali bin Abi Thalib kemudian menyiram selimut itu dengan air panas dan tidak lama kemudian bercak sperma tersebut menggumpal. Ali bin Abi Thalib lau berkata bahwa sang wanita telah berbohong karena itu adalah bercak putih telur. Begitulah profil seorang da’I ia haruslah memiliki wawasan dan keilmuan yang cukup untuk mengatasi permasalahan masyarakat yang ada.
3. Misdaqiyah As Syabiyah (Kredibilitas Sosial)
Seorang mu’min tidaklah cukup dengan menjadi shalih atau baik untuk dirinya sendiri saja. Namun, seorang mu’min haruslah menjadi mushlih atau menshalihkan orang lain sebagai salah bentuk dakwah yang kita lakukan.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallambersabda: “Orang mu’min yang bergaul dengan manusia dan sabar menghadapi gangguan mereka, lebih baik daripada orang yang tidak mau bergaul dengan mereka dan tak sabar menghadapi gangguan mereka”. (HR. Imam Bukhari dalam Adabul Al Mufrad, Imam At Tirmidzy, dan Imam Ahmad)
Hadits diatas menegaskan peran seorang mu’min untuk senantiasa bergaul dengan masyarakat, sehingga interaksi seorang da’i dengan masyarakat dalam kehidupan sosial adalah sebuah keniscayaan. Sebuah kisah masyhuryang seringkali kita dengar mengenai amalan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menyuapi seorang tua yang buta beragama yahudi setiap harinya dengan kelembutan dan kesabaran. Lalu Abu bakar ash shidiq pun berusaha untuk mengamalkannya sepeninggalan beliau. Serta-merta orang tua tunanetra ini kaget karena merasa “sentuhan” suapannya berbeda. Abu Bakar pun menjelaskan bahwa yang biasa menyuapinya adalah Rasulullah yang telah tiada. Hingga akhirnya orang tua tersebut masuk islam karena Orang ini tidak menyadari bahwa yang menyuapi dirinya adalah seorang Nabi yang selalu diejek, dicaci maki, dan dibencinya. Ini merupakan contoh langsung dari Rasulullah kepada kita, agar senantiasa bergaul dengan masyarakat. Oleh karena itu setiap mu’min hendaknya mempunyai kredibilatas sosial untuk menunjang amal sya’bi kita.
4. Misdaqiyah Al Akhlaqiyah (Kredibilitas Akhlaq)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diutus oleh Allah Ta’ala dalam rangka untuk menyempurnakan Akhlaq manusia sebagaimana beliau bersabda
إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ)وَفِي رِوَايَةٍ صَالِحَ(الأَخْلاَقِ
“Sesungguhnya aku (Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam) diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia (dalam riwayat yang lain dengan lafadz untuk memperbaiki akhlak)” (HR Bukhari)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri langsung mencontohkan kepada kita bagaimana keagungan akhlaknya sehingga diabadikan oleh Allah Ta’ala di dalam Al Qur’an sesuai firman-Nya
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ۬
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlaq yang agung”. (QS. al-Qalam [68]:4).
Begitupun juga sebagai Da’I saat kita ingin melakukan amar ma’ruf nahi munkar, mengajarkan kebaikan kepada setiap insan, mengajak mereka mengagungkan asmaNya, beribadah kepadaNya, dan memperbaiki akhlaq manusia, kita terlebih dahulu harus memiliki alkhlaqul mahmudah atau akhlak yang terpuji untuk kita semaikan kepada umat.
Seringkali Da’wah bil hal (dakwah dengan contoh perbuatan yang terpuji) seringkali lebih efektif untuk mengajak manusia kepada lingkaran kebaikan dibandingkan dengan da’wah bil lisan(dakwah dengan perkataan) semata, menimbulkan kesan dan memberikan efek magnetis. Begitu banyak kaum Quraisy yang masuk islam karena terkesan dengan akhlaq Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang begitu mulia.
Saat seorang da’I memiliki empat kredibilitas ini, maka InsyaAllah dakwah yang kita lakukan akan efektif dan optimal.
Wallahu’alam bishshawab.

Iklan