Bersikap Terhadap Aib Kesalahan.
Informasi tentang manusia banyak bertebaran dimana-mana..
Dan hukum lazim yang ada..
Lebih “asyik” membicarakan aib keburukan orang daripada kebaikannya..
Padahal..
A. Tutupi Aib.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda,
لَا يَسْتُرُ عَبْدٌ عَبْدًا فِي الدُّنْيَا إِلَّا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Tidaklah seseorang menutupi aib manusia lainnya di dunia, melainkan Allah akan menutupi aibnya kelak di hari kiamat..” [HR. Muslim: 2590]
B. Nasihat Empat Mata.
Imam Asy-Syafi’i rahimahullah bertutur,
من وعظ أخاه سراً فقد نصحه وزانه ، ومن وعظه علانية فقد فضحه وخانه
“Barangsiapa menasihati saudaranya secara tersembunyi (empat mata) maka sungguh ia telah menasihati sekaligus memperindah (nasihat)nya..
Namun barangsiapa menasihati saudaranya secara terang-terangan (di khalayak ramai) maka sungguh ia sudah membuka aib sekaligus mengkhianatinya..”
[Hilyatul-Auliyaa’, 9/140 Abu Nu’aim]
C. Beri Udzur.
Muhammad bin Sirin rahimahullah mengingatkan,
إذا بلغك عن أخيك شيء فالتمس له عذرًا ، فإن لم تجد فقل: لعل له عذرًا لا أعرفه
“Apabila sampai kepadamu suatu berita buruk tentang saudaramu maka lekas carilah udzur untuknya..
Bila tidak juga engkau dapatkan udzur itu maka katakan:
“Barangkali ia memiliki udzur yang tidak aku ketahui..” [Syu’abul Iman: 6/323 Imam al-Baihaqi]
Mereka memiliki aib kesalahan sebagaimana kita pun memilikinya pula..
Bahkan mungkin lebih banyak dan lebih mengerikan, hanya saja Allah masih menutupinya..
Mereka memiliki lisan sebagaimana kita pun memilikinya juga..
Namun bisa jadi mereka menahan diri dari membicarakan aib kita..
Lantas mengapa kita gemar mengumbar aib kesalahan manusia..?

Iklan