PENYEBAB MENGAPA UMAT ISLAM BERPECAH

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الْحَمْدُ لِلَّهِ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى رسول الله وبعد

Banyak diantara kita bertanya pada saat ini, saat ia melihat fenomena yang ada di tengah-tengah umat Islam, dimana dia berpikir dan berbicara dengan dirinya atau dengan temannya:

“Mengapa umat Islam pada saat ini berpecah belah dan berkelompok-kelompok?”

Ini sebuah kenyataan yang tidak bisa kita pungkiri.

Apabila kita termasuk orang yang memikirkan kondisi umat seperti pertanyaan diatas, maka ketahuilah bahwa kita bukanlah orang yang pertama bertanya dengan pertanyaan diatas.

Sebelum kita, jauh sebelum kita ada seorang ulama besar, tokoh kharismatik, seorang sosok yang diakui oleh umat islam diseluruh dunia yaitu ‘Umar bin Khaththāb Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu, pernah bertanya dengan pertanyaan serupa:

كَيْفَ تَخْتَلِفُ هَذِهِ الْأُمَّةُ ؟

“Mengapa umat Islam ini berpecah belah?”

Sebuah pertanyaan yang lahir dari kecemburuan seorang yang beriman jika melihat kondisi umat Islam pada saat itu.

Lalu beliau bertanya kepada ‘Abdullāh bin Abbās, lalu apa jawaban Abdullāh bin Abbas?

Mari kita simak jawaban ‘Abdullāh bin Abbās, sebuah jawaban yang akan membuka mata kita sehingga kita mengetahui jawaban dari pertanyaan besar diatas. Beliau mengatakan:

يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ إِنَّا أُنْزِلَ عَلَيْنَا الْقُرْآنُ فَقَرَأْنَاهُ وَعَلِمْنَاهُ فِيمَ نَزَلَ ، وَسَيَكُونُ بَعْدَنَا أَقْوَامٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لا يَدْرُونَ فِيمَ نَزَلَ وَيَكُونُ لِكُلِّ قَوْمٍ فِيهِ رَأْيٌ وَاخْتَلَفُوا فَإِذَا اخْتَلَفُوا قُتِلُوا

Sumber: http://library.islamweb.net/hadith/display_hbook.php?hflag=1&bk_no=4081&pid=922803

Wahai Pemimpin Umat Islam, sesungguhnya Al Qurān diturunkan di tengah-tengah kita, kita yang pertama kali membacanya dan kita yang paling mengetahui makna setiap ayat yang ada didalam Al Qurān.

Lalu setelah kita wafat akan lahir generasi berikutnya diantara mereka ada kaum-kaum yang mereka membaca Al Qurānul Karīm.

Mereka tidak meninggalkan Al Qurān dan mereka tidak menyimpan Al Qurān digudang mereka, tidak, namun mereka tidak tahu makna dari ayat-ayat yang mereka baca.

Ketika mereka tidak tahu pemahaman yang benar dari ayat-ayat tersebut (sebagaimana dipahami oleh para shahābat Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam, sebagaimana penuturan Abdullāh bin Abbās), maka mereka mulai mentafsirkan Al Qurānul Karīm sesuai dengan pemahaman mereka masing-masing.

⇒ Setiap orang punya opini/pentafsiran, setiap kelompok punya pentafsiran.

Maka apabila setiap mereka sudah mentafsirkan Al Qurān dengan pentafsiran masing-masing maka mereka akan berselisih/berpecah belah.

Dan kalau mereka sudah berpecah belah maka langkah berikutnya dikhawatirkan akan terjadi konflik horizontal di tengah-tengah umat.

Inilah pertanyaan yang dilemparkan oleh ‘Umar bin Khaththāb dan dijawab dengan sangat cerdas oleh ‘Abdullāh bin Abbās.

[Al Imam Baihaqiy dalam kitabnya Syu’batul Īmān]

Jawaban dari ‘Abdullāh bin Abbās ini harus kita renungkan karena bukan percakapan warung kopi.

Yang bertanya adalah Amīrul Mu’minīn Al Farūq, gelar yang diberikan Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam (yaitu) orang yang bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Dan yang menjawab adalah Habrul Ummah, orang yang menempati rangking pertama dalam ilmu tafsir.

Ulama mengatakan:

نعم ترجمان القرآن عبد الله بن عباس

“Sebaik-baik yang mentafsirkan Al Qurān adalah Abdullāh bin Abbas.”

Satu-satunya umat Nabi yang mendapatkan do’a:

اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ

“Ya Allāh, pahamkanlah dia (Abdullāh bin Abbas) tentang urusan agamanya dan ajarkan dia tafsir Al Qurān.”

Dan do’a Beliau diijabah oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

‘Abdullāh bin Abbās mengatakan bahwa salah satu sebab mengapa banyak sekali kotak di tengah-tengah umat Islam karena masalah pemahaman yang mengambil Al Qurān dan menerima hadits Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam sesuai pemahaman mereka masing-masing.

Banyak sekali ucapan yang kita dengar “Menurut saya begini”, persis seperti yang dikatakan ‘Abdullāh bin Abbās yaitu mereka tidak mentafsirkan Al Qurān sebagaimana pentafsiran para Shahābat.

Apa yang terjadi? Mata dan back ground kita tidak sama, latar belakang kita berbeda.

Kalau setiap orang diberikan kesempatan untuk mentafsirkan tanpa ada standar ilmiah yang jelas maka pasti akan terjadi perbedaan.

Dan langkah berikutnya terjadi perpecahan dan dikhawatirkan terjadi konflik horizontal.

Oleh karena itu hadirin yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

Jika kita benar-benar tulus ingin umat ini bersatu maka kembali kepada jawaban Abdullāh bin Abbas.

⇒ Ini adalah jawaban yang objektif karena semua orang mengakui ilmu ‘Umar bin Khatab dan ‘Abdullāh bin Abbās Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhum ajma’īn.

Kembalilah pada pemahaman dan metode beragama para Shahābat yang langsung digembleng dan dibina oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Mereka adalah murid-murid langsung Nabi kita tercinta Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Menggunakan pemahaman mereka itu sama saja menggunakan ilmu yang ditransfer oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Oleh karena itu Allāh memuji beliau dalam surat At Taubah ayat 100:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

“Dan orang-orang yang pertama kali masuk Islam dari golongan Muhājirīn dan Anshār (yaitu) para shahābat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allāh ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada Allāh.”

Oleh karena itu, ulama yang kita hormati, segani dan akui ilmunya Syaikh Abdul Qādir Al-Jaylāniy Rahimahullāh Ta’āla
Pernah mengatakan dalam kitabnya Al-Fathu Ar-Rabbāniy:

عليكم بمذهب السلف الصالح

“Wajib atas kalian mengikuti jalannya para Salafush shālih.”

⇒ Jalan/metode/pemahaman para shahābat radhiyallāhu Ta’ālā ‘anhum ajma’īn yang telah mereka jabarkan secara komprehensif.

Ini penjelasan para ulama kita yang kita akui bersama.

Dan ini sebagaimana yang digariskan oleh Nabi kita Shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam hadits iftirāq diriwayatkan oleh Imām Tirmidzi:
وستفترق هذه الأمة على ثلاث وسبعين فرقة كلها في النار إلا واحدة، قيل: من هي يا رسول الله؟ قال: من كان على مثل ما أنا عليه وأصحابي.

(رواه أبو داود والترمذي وابن ماجه والحاكم، وقال: صحيح على شرط مسلم).

Sumber: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=76858

“Sesungguhnya (ummat) agama ini (Islam) akan berpecah belah menjadi 73 golongan, 72 golongan tempatnya di dalam Neraka dan hanya satu golongan di dalam Surga, yaitu al-Jamā’ah.

Semua golongan tersebut tempatnya di Neraka, kecuali satu (yaitu) yang aku dan para shahābatku berjalan di atasnya.”

Oleh karena itu marilah kita ambil Al Qurānul Karīm dan hadist Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan marilah kita ikuti pemahaman yang digariskan oleh Allāh dalam Al Qurān dan Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam haditsnya.

Jadi,

•✓Ayat Al Qurān kita ambil.

•✓Haditsnya kita pegang.

•✓Metode pemahamannya jangan menggunakan metode pemahaman sendiri, tetapi gunakanlah metode pemahaman;

⑴ Yang sudah direkomendasi Allāh dalam surat At Taubah ayat 100 tadi.

⑵ Apa yang digariskan oleh Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam hadits Tirmidzi tadi.

⑶ Wasiat emas Syaikh Abdul Qadir Zaelani yang sangat diakui ilmunya dalam masyarakat umat islam; Wajib atas kalian mengikuti metode dan jalan beragama para salafush shālih yaitu shahābat Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhum.

Ini saja yang bisa saya sampaikan.

Semoga Allāh memberikan taufiq kepada kita untuk meniti jalan para shahābat, generasi yang langsung dicetak oleh tangan dingin Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Iklan