Gay bukan penyakit menular

66% faktor lingkungan sangat mempengaruhi jiwa seseorang menjadi Gay (Pandangan NiklasLangstrom, seorang Professor di Karolinska institutet, Senior Researcher, Correctional Services, Twitter: @NiklasLangstrom)

Para pendukung gay kemudian mencoba menularkan mereka dengan ragam aktifitas. Di dunia pendidikan, mereka mendorong konsep baru yakni bahwa orang tua harus memposisikan dirinya sebagai fasilitator bagi anak sejak kecil dalam menentukan pilihan gendernya, dan agama tidak boleh berperan mengintervensi.

Maka kemudian jangan terkejut jika ada seorang anak yang telah tertular pemikiran ini dengan tanpa berdosa berbicara di depan publik bahwa gender adalah anugerah dari Tuhan dan tidak boleh ada yang mengecam mereka yang berbeda gender.

Pakar Kedokteran Jiwa, Prof. Dr. dr. H. Dadang Hawari, Psikiater menyebutkan bahwa suara-suara yang menghalalkan perkawinan sejenis (homoseksual dan lesbian) sebenarnya lebih bersumber dari jiwa yang sakit, emosi yang tidak stabil dan nalar yang sakit.

Penyakit homo/lesbi ini bisa diobati. Kasus homoseksual tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan melalui proses perkembangan psikoseksual seseorang, terutama faktor pendidikan keluarga di rumah dan pergaulan sosial.

Homoseksual dapat dicegah dan diubah orientasi seksualnya, sehingga seorang yang semula homoseksual dapat hidup wajar lagi (heteroseksual). (Dadang Hawari, Pendekatan Psikoreligi pada Homoseksual)

Sebagian dokter banyak menceritakan pengalaman mereka. Misalkan bagaimana seorang penderita gay baru datang ke dokter ketika duburnya sudah rusak. Ia kemudian tidak jadi berobat setelah melihat sendiri bagaimana tingkat kerusakan duburnya yang sangat parah.

Sebagian gay mungkin baru tersadarkan setelah nasi menjadi bubur, bahwa ternyata para pendukung LGBT tidak akan membersamai mereka di saat kondisi mereka semakin kritis.

Ketika para dokter dan perawat pun sangat berhati-hati memegang tubuh mereka yang mengidap banyak penyakit menjijikan, namun pada saat itu, hanya orang tua merekalah yang penuh ikhlas merawat mereka, meski sebelumnya merekalah orang tua yang paling keras mengecam perilaku anaknya.
🌷 Gay tidak bisa disembuhkan karena bukan penyakit

Sebagian psikiatri ketika merewind masa kecil seorang pengidap gay, menemukan bahwa kebanyakan biseksual memiliki trauma masa kecil dengan ibu atau bapaknya, sehingga ia lebih nyaman berbicara dengan selain orang tuanya.

Seorang anak yang tumbuh dengan kecenderungan ‘melambai’, mungkin karena ia dibesarkan di lingkungan dengan jumlah wanita lebih banyak (keluarga dekat atau teman sekolah), berpotensi akan terus menguat jika orang tua dan lingkungannya tidak segera meluruskan perilakunya atau pilihan-pilihan hidupnya.

Misalkan ketika seorang anak laki-laki lebih memilih penjepit rambut dan boneka, maka orang tua harus segera memberikan alternatif atas pilihannya.

Dalam hal ini peran ayah tidak boleh hilang. Sebagus apapun seorang ibu menceritakan kisah kepahlawanan pria, tidak akan sama jika ayah yang menceritakan dan meneladankannya.

Seorang anak yang terbiasa menonton media massa akan perilaku pria-pria yang sengaja ‘melambai’ dan tidak didampingi orang tuanya berpotensi untuk meniru, atau minimal menjadi sosok yang menerima keadaan.

Maka orang tua harus selalu menemani dan memberikan pelajaran positif bagi anaknya agar tetap tegas dalam kelelakiannya dan memandang bahwa apa yang disaksikannya adalah bentuk penyimpangan kejiwaan. Yang patut disayangkan film kartun Ipin dan Upin pun masih terdapat tokoh Bang Saleh yang dapat mengganggu perkembangan identitas anak.

Dalam konteks tumbuh kembang anak, terapi terhadap orang tua jauh lebih penting agar dapat lebih optimal membersamai anak-anaknya, sehingga wabah penyakit tidak keburu menjadi kronis dan sulit disembuhkan.

Sebagai penutup, mari kita cegah berkembangnya pemikiran dan nafsu LGBT minimal melalui cara berikut ini:

1. Meningkatkan peran dan kualitas orang tua

2. Menguatkan pendidikan agama

3. Memperhatikan asupan makanan

4. Memperhatikan lingkungan pendukung

5. Memperhatikan bahaya informasi media

Wallahu A’lam

Iklan