Tidak Adakah Di Antaramu Seorang yang Berakal?

بسم الله الرحمن الرحيم

 

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

أَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَشِيدٌ

“Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?” [Hud: 78]

Sungguh inilah kalimat pertama yang paling tepat untuk membantahmu, karena kalimat inilah yang diucapkan Nabi Luth ‘alaihisalaam kepada kaum yang senang berhubungan sejenis pertama kali di muka bumi; yang membiarkan, menghalalkan dan mendukung perbuatan tersebut, kemudian Allah tetapkan kalimat ini dalam Al-Qur’an yang mulia sebagai pelajaran sampai hari kiamat.

Ayat yang mulia ini adalah potongan ayat tentang kisah kaum lelaki penyuka sesama jenis yang bernafsu melihat tamu-tamu Nabi Luth ‘alaihissalaam,

وَجَاءَهُ قَوْمُهُ يُهْرَعُونَ إِلَيْهِ وَمِنْ قَبْلُ كَانُوا يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ قَالَ يَا قَوْمِ هَؤُلَاءِ بَنَاتِي هُنَّ أَطْهَرُ لَكُمْ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَلَا تُخْزُونِ فِي ضَيْفِي أَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَشِيدٌ

“Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth berkata: “Wahai kaumku, inilah putri-putri (negeri) ku mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama) ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?” [Hud: 78]

Tapi mereka seakan sudah kehilangan akal dan tidak punya lagi rasa malu,

قَالُوا لَقَدْ عَلِمْتَ مَا لَنَا فِي بَنَاتِكَ مِنْ حَقٍّ وَإِنَّكَ لَتَعْلَمُ مَا نُرِيدُ

“Mereka menjawab: Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap putri-putri (negeri) mu, dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki.” [Hud: 79]

➡ Siapakah yang dimaksud oleh Nabi Luth ‘alaihissalaam sebagai orang yang berakal?

Ketahuilah yang beliau maksud adalah orang yang melarang perbuatan mereka, maka berarti siapa yang membiarkan perbuatan mereka bukanlah orang yang berakal (secara hakiki), bagaimana lagi dengan orang yang malah mendukungnya…?!

Al-Imam Al-Mufassir Ibnu Jarir Ath-Thobari rahimahullah berkata,

“Ucapannya, “Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?”, maknyanya beliau berkata: Tidak adakah seorang yang memiliki akal sehat yang melarang mereka yang ingin melakukan kekejian (hubungan sejenis) terhadap tamuku agar mereka tidak dapat melakukannya?” [Tafsir Ath-Thobari, 15/417]

Sebagaimana riwayat dari Al-Imam Ibnu Ishaq rahimahullah, beliau berkata,

أي رجل يعرف الحقَّ وينهى عن المنكر؟

“Tidak adakah orang yang berakal, yaitu orang yang mengetahui kebenaran dan melarang kemungkaran tersebut?” [Tafsir Ath-Thobari, 15/417 no. 18384]

Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata,

أَيْ شَدِيدٌ يَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ

“Orang yang berakal adalah yang kuat dalam memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran tersebut.” [Tafsir Al-Qurthubi, 9/77]

✅ Kedua: Apabila orang yang membiarkan dosa tersebut bukanlah orang yang berakal, bagaimana lagi dengan orang yang melakukannya…?!

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

{أَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَشِيدٌ} أَيْ: لَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ فِيهِ خَيْرٌ، يَقْبَلُ مَا آمره به، ويترك ما أنهاه عَنْهُ؟

“Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal? Maknanya adalah tidak adakah diantaramu orang yang masih punya kebaikan untuk menerima perintahku dan meninggalkan laranganku?” [Tafsir Ibnu Katsir, 4/337-338]

📚 Baca Selengkapnya: https://t.co/9Tp4aWvuay

Iklan