📗⚫️Ali Imron:161-164⚫️📗=====================

        

بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم.                  
Ayat : 161

========

وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَغُلَّ ۚ وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ  ﴿١٦١﴾؅

“Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.”
Pelajaran Ayat :

~~~~~~~~~~~

1. Dalam setiap perjuangan yang ditakdirkan menang oleh Allah subhanahu wata’ala akan selalu diwarnai dengan datangnya ujian terhadap harta. Oleh karena tentu itu harus menjadi perhatian kita agar lulus dari ujian harta ketika perjuangan kita dimenangkan oleh Allah.

2. Sebab turunnya ayat ini adalah pada saat perang Badr. Saat itu ada ghanimah berupa karpet merah yang sangat mewah yang tiba2 hilang. Para Sahabat ra hum, menuduh Rasulullah ﷺ yang mengambilnya. Sehingga Allah subhanahu wata’ala menurunkan pembelaan terhadap nabiNya dengan menurunkan ayat ini. Bahwa tidak mungkin seorang Nabi Allah melakukan “korupsi” dari hasil kemenangan perjuangannya. Korupsi adalah Sesuatu yang didapatkan karena jabatan yang dimiliki.

3. Amanah (jabatan) bisa menjadi sesuatu yang sangat bermanfaat, karena bisa menjadi pintu ridho Allah, akan tetapi juga bisa menjadi penyebab murka Allah.

4. Rasul shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda bahwa siapa saja yang mendapatkan jabatan karena merebutnya dari orang lain, maka Allah tidak akan menolongnya. Tetapi jabatan itu ia dapat dari amanah yang diberikan kepadanya maka Allah akan menolongnya. Tentu jika jabatan ini beredar dikalangan sesama kaum Muslimin. Jika urusan jabatan ini beredar diantara orang kafir, maka Muslim wajib merebutnya. 
Ayat : 162

=======

أَفَمَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَ اللَّهِ كَمَنْ بَاءَ بِسَخَطٍ مِنَ اللَّهِ وَمَأْوَاهُ جَهَنَّمُ ۚ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ  ﴿١٦٢

“Apakah orang yang mengikuti keridhaan Allah sama dengan orang yang kembali membawa kemurkaan (yang besar) dari Allah dan tempatnya adalah Jahannam? Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.”
Pelajaran Ayat :

~~~~~~~~~~~

1. Ayat seperti ini cukup banyak didalam Al Qur’an.

2. Ayat ini mengajak kita agar selalu membayangkan perbedaan antara orang yang mendapat keridhoan Allah dengan yang tidak. Pasti diantara mereka tidak sama dalam ilmunya, keimanannya, ahlaqnya, cita-cita dan orientasi hidupnya dll. Perbedaan inilah yang akan menampakkan berbedaan pula dari ketaqwaannya kepada Allah dan juga beda pula keridhoan yang dierima diantara mereka.

3. Ayat-ayat serupa dengan ayat ini ada di QS. Az Zumar : 

‎أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ [الزمر : 9]

(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (Az-Zumar : 9)

‎وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا ۚ ذَٰلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ (27)

‎ أَمْ نَجْعَلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَالْمُفْسِدِينَ فِي الْأَرْضِ أَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِينَ كَالْفُجَّارِ (28) [ص : 27-28]

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka. 

(QS. Shaad : 27)
Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat? (QS. Shaad : 28)
Ayat diatas adalah tentang orang-orang yang rajin Qiamul Lail. Setiap dari kita yang masih kurang beribadah diwaktu malam, berarti kita masih kurang ilmu. Karena salah satu dampak (atsar) ilmu adalah bertambahnya keimanan dan tampak peningkatan pada pelaksanaan ibadah malamnya. 
Seperti juga disebutkan dalam 

QS. Al Jatsiyah : 

‎أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَن نَّجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَّحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ ۚ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ [الجاثية : 21]

‘Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu.” (QS.Al-Jāthiyah : 21).
Allah juga tidak akan menyamakan dalam memperlakukan diantara orang-orang yang Dia ridhoi dan yang tidak, yang beriman serta mengerjakan amal sholih dengan yang durhaka kepadaNya. Perlakuan yang akan sangat berbeda bagi mereka baik dalam kehidupan maupun kematian mereka.
Ayat : 163

=======

هُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ  ﴿١٦٣﴾؅

“(Kedudukan) mereka itu bertingkat-tingkat di sisi Allah, dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.”
Pelajaran Ayat :

~~~~~~~~~~~

Orang2 yang mengikuti jalan keridhoan Allah maka mereka memiliki kedudukan yang tinggi disisi Allah subhanahu wata’ala. 
Ayat : 164

=======

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ  ﴿١٦٤﴾؅

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”
Pelajaran Ayat :

~~~~~~~~~~~

1. Allah subhanahu wata’ala telah menberikan sesuatu yang istimewa kpd orng beriman dgn diutusnya kpd mereka seorang Rasulullah ﷺ diantara mereka. Dan tugas Rasulullah ﷺ adalah mengajarkan Al Qur’an yakni membacakan dan memahamkan kepada umatnya. Dan juga memperbaiki jiwa manusia dan mengajarkan Al Qur’an dan mengajarkan Hadist. Sebelum Rasulullah ﷺ diutus oleh Allah sesungguhnya semua manusia itu berada dlm kesesatan yang nyata. Oleh karena itu sebagai orang yang beriman, kita harus bersemangat untuk memembuktikan keutamaan ilmu yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ sesuatu yang berharga itu (Al Qur’an dan Hadist). 

2. Bukti lain bahwa hidayah Allah adalah sesuatu yang istimewa .. Yakni ketika kita merasa kehilangan sesuatu yang berharga, contoh saat kita terlalai dalam suatu amal sholih maka kita akan merasakan penyesalan yang dalam.

3. Bukti yang lain dari keistimewaan seorang hamba yang mendapat karunia hidayah adalah ia akan bersikap bersabar terhadap sikap orang lain yang belum mendapat hidayah dan orang tersebut telah berbuat jahat kepada dirinya. Seperti disebut di QS. Yusuf : 90 – 91. 

‎قَالُوا أَإِنَّكَ لَأَنتَ يُوسُفُ ۖ قَالَ أَنَا يُوسُفُ وَهَٰذَا أَخِي ۖ قَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا ۖ إِنَّهُ مَن يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ 

‎(90) قَالُوا تَاللَّهِ لَقَدْ آثَرَكَ اللَّهُ عَلَيْنَا وَإِن كُنَّا لَخَاطِئِينَ (91) [يوسف : 90-91]

Mereka berkata: “Apakah kamu ini benar-benar Yusuf?”. Yusuf menjawab: “Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami”. Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik” 

Mereka berkata: “Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa).”

Iklan