๐Ÿ“š “BELAJAR ILMU NAHWU
DARI KITAB AL AJURUMIYAH” ๐Ÿ“–

๐ŸŒป (PELAJARAN KEEMPAT) ๐ŸŒป

โœ… CIRI-CIRI FI’IL (KATA KERJA) โ™ป

๐Ÿ”… (bagian kedua) ๐Ÿ”…

โœ’ ู‚ุงู„ ุงู„ู…ุคู„ู – ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡:
ูˆุงู„ููุนู’ู„ูŽ ูŠูุนู’ุฑูŽูู ุจูู‚ูŽุฏู’ุŒ ูˆูŽุงู„ุณูŠู†ู ูˆ”ุณูŽูˆู’ููŽ” ูˆูŽุชูŽุงุกู ุงู„ุชุฃู’ู†ูŠุซู ุงู„ุณู‘ูŽุงูƒูู†ุฉ.

โœ’ Berkata Penulis_rahimahullah:
“Dan Fi’il dapat diketahui dengan huruf (ู‚ูŽุฏู’), (ุณูŽ), (ุณูŽูˆู’ููŽ) dan Ta Ta’nits Saakinah (ุชู’).”

๐Ÿ’ก Penjelasan:

Pada pelajaran yang lalu, telah kami terangkan ciri-ciri Fi’il yang pertama yaitu huruf (ู‚ูŽุฏู’). Pada pelajaran kita kali ini, kami akan menjelaska ciri2 Fi’il yang selanjutnya dari ciri2 Fi’il yang disebutkan oleh penulis kitab ini.

2โƒฃ.Huruf (ุงู„ุณููŠู’ู†) dan 3โƒฃHuruf (ุณูŽูˆู’ููŽ), kedua Huruf ini hanya masuk kepada Fi’il Mudhari’ saja, yang mana dua Huruf ini berfungsi untuk menunjukan bahwa Fi’il Mudhari’ tersebut bermakna akan datang.
๐Ÿ“Œ Contoh:

{ุณูŽุฃูŽุณู’ุชูŽุบู’ููุฑู ู„ูŽูƒูŽ}

“aku akan memintakan ampun bagimu ” [QS. Maryam: 47]

ูƒูŽู„ู‘ูŽุง ุณูŽูˆู’ููŽ ุชูŽุนู’ู„ูŽู…ููˆู†ูŽ

“Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu)” [QS. At Takaatsur: 3]

๐Ÿ‘‰ Kalimat (ุฃูŽุณู’ุชูŽุบู’ููุฑู) dan (ุชูŽุนู’ู„ูŽู…ููˆู†ูŽ) adalah Fi’il, karena dia dapat dimasuki oleh dua Huruf diatas.

๐Ÿ“‹ Catatan:

Fi’il Mudhari’ dalam tata bahasa Indonesia adalah kata kerja kini atau nanti.
๐Ÿ“Œ Contonya:

ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏูŒ ูŠูŽุดู’ุฑูŽุจู

Jumlah diatas bisa kita artikan “Muhamad sedang minum” atau “Muhamad akan minum”. Boleh kedua-duanya.
Namun apabila Fi’il Mudhari’ dimasuki Huruf (ุงู„ุณููŠู’ู†) atau Huruf (ุณูŽูˆู’ููŽ), maka Fi’il Mudhari’ tersebut bermakna akan datang, bukan bermakna Fi’il tsb sedang berlangsung.
๐Ÿ“Œ Contohnya:

ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏูŒ ุณูŽูŠูŽุดู’ุฑูŽุจู / ุณูŽูˆู’ููŽ ูŠูŽุดู’ุฑูŽุจู

“Muhamad akan minum”

Tidak kita artikan “Muhamad sedang minum”, karena masuknya dua Huruf tersebut pada Fi’il Mudhari yaitu kalimat (ูŠูŽุดู’ุฑูŽุจู).

๐Ÿ“™ Kesimpulan:

Jika kamu mendapatkan suatu kalimat, masuk padanya Huruf (ุงู„ุณููŠู’ู†) atau (ุณูŽูˆู’ููŽ), maka pastikan dia adalah fi’il.

4โƒฃ.Huruf “Ta’ Ta’nits As Saakinah” (ุชู’) artinya Ta penanda Muannats (perempuan). Huruf ini hanya masuk pada Fi’il Madhy, dia berfungsi untuk menunjukan bahwa subyek/pelaku dari Fi’il tersebut adalah perempuan.
๐Ÿ“ŒContoh:

ุฅูุฐู’ ู‚ูŽุงู„ูŽุชู ุงู…ู’ุฑูŽุฃูŽุชู ุนูู…ู’ุฑูŽุงู†ูŽ

“(Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkataโ€ฆ” [QS. Alu ‘Imran: 35]

๐Ÿ‘‰ Kalimat (ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’) adalah Fi’il, karena masuk padanya Huruf Ta Ta’nits (ุชู’).

๐Ÿ“‹ Catatan:

Huruh Ta Ta’nits (ุชู’) pada ayat diatas, hukum asalnya adalah disukun, namun dia dikasrah karena adanya pertemuan dua harakat sukun, sehingga harakat sukun pertama dirubah menjadi kasrah.

๐Ÿ”— Kesimpulan:

๐ŸŒ Selesailah kita dari penyebutan alamat-alamat Fi’il, yang mana disebutkan oleh penulis lima alamat.
๐Ÿ”น Satu alamat bisa masuk pada Fi’il Madhy dan Fi’il Mudhari’, yaitu huruf (ู‚ูŽุฏู’)
๐Ÿ”น Satu alamat hanya masuk pada Fi’il Madhy saja, yaitu huruf Ta Ta’nits sakinah (ุชู’)
๐Ÿ”น Dua alamat hanya masuk pada Fi’il Mudhari’, yaitu huruf (ุงู„ุณููŠู’ู†) dan (ุณูŽูˆู’ููŽ)

๐ŸŽ Faedah tambahan:

Penulis_rahimahullah dalam kitab ini tidak menyebutkan alamat Fi’il yang masuk pada Fi’il Amer (kata kerja perintah), alamat tersebut adalah kalimat yang terkandung padanya makna perintah dan menerima masuknya “Ya Mukhathabah”, yaitu Ya penanda bahwa lawan bicara yang diperintah adalah Muannats (perempuan).
๐Ÿ“Œ Contoh:

ุงุฌู’ู„ูุณููŠ ูŠูŽุง ููŽุงุทูู…ูŽุฉู!

“Duduklah wahai Fathimah!

๐Ÿ‘‰ Kalimat (ุงุฌู’ู„ูุณ) adalah Fi’il Amer, karena terkandung padanya perintah dan masuk padanya Ya Mukhathabah padanya.

kamu hukumi dia adalah isim. Apabila kalimat tersebut bisa menerima alamat Fi’il, maka hukumilah bahwa dia itu adalah fi’il. Namun jika tidak bisa menerima alamat Isim ataupun alamat Fi’il maka hukumilah bahwa dia adalah huruf.
๐Ÿ“Œ Contohnya:

Kata (ู…ูู†ู’) dia adalah huruf, bukan isim, dengan bukti kalau kita masukan tanwin padanya menjadi (ู…ูู†ูŒ), maka tidaklah pas. Coba kita masukan salah satu alamat Fi’il (ู‚ูŽุฏู’ ู…ูู†ู’) maka tidaklah tepat.

๐Ÿ‘‰ Jika demikian, maka kamu hukumi kata tersebut adalah huruf, bukan isim dan bukan pula Fi’il.

๐ŸŒท Demikianlah pelajaran kita hari ini, dan semoga bisa dipahami dengan baik.

๐ŸŒท Terus terang kami jelaskan dalam pelajaran jurumiyah ini secara ringkas saja. Adapun pembahasan lebih luasnya, maka akan dipelajari pada kitab yang lainnya. Dan juga untuk istilah-istilah nahwu, sekarang kita tulis dengan huruf besar pada huruf pertamanya, agar menjadi perhatian disaat membaca.

Insya Allah kita akan lanjutkan pelajaran kita berikutnya pada pertemuan yang akan datang. Wallahu a’lam bish shawab.

[โœ ditulis oleh Abu ‘Ubaidah Iqbal bin Damiri Al

Iklan