Tentang darah haid, dalam Risalah fid Dima’ Ath Thabi’iyyah lin Nisa’, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah menjelaskan,

“Menurut bahasa, lafal ‘haid’ bermakna ‘mengalirnya sesuatu’. Menurut syariat, [haid] adalah darah yang terjadi pada wanita secara alami tanpa sebab dan terjadi pada waktu-waktu tertentu. Karena itu, haid adalah darah yang biasa keluar bukan karena penyakit, luka, keguguran, atau melahirkan. Karena haid adalah darah yang normal, maka haid itu berbeda-beda, tergantung keadaan masing-masing wanita, keadaan lingkungan dan iklim, sehingga terjadi perbedaan yang jelas dan nyata di setiap wanita.”

Akan tetapi, ada sebagian wanita yang mendapatkan haid dan juga istihadhah. Darah haid, tentu saja, berbeda dengan darah istihadhah.

Masih dalam buku yang sama, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan tentang darah istihadhah itu.
“ Istihadhah adalah keluar darah terus-menerus pada wanita tanpa henti selamanya atau terhenti dalam waktu yang sebentar saja seperti satu atau dua hari dalam satu bulan.

Dalil kasus pertama (yang darah tidak berhenti) seperti yang terdapat dalam hadits riwayat Al Bukhari dari Aisyah. Beliau radhiyallahu ‘anha mengatakan bahwa Fatimah bintu Abi Hubaisy berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku tidak pernah suci’. Dalam riwayat lain, ‘Aku istihadhah, sehingga tidak pernah suci’ [HR. Al Bukhari dan Muslim].

Adapun dalil kasus kedua (yang berhenti dalam waktu sebentar), hadits Hamnah bintu Jahsyin. Beliau datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku istihadhah dengan darah haid yang sangat banyak’. [HR. Ahmad, Abu Dawud, dan At Tirmidzi (beliau men-shahih-kannya), juga dinukilkan dari Imam Ahmad tentang shahih-nya hadits ini dan dari Al Bukhari tentang hasan-nya hadits ini]”.

📡 http://dakwahislam.net/ada-yang-namanya-haid-ada-yang-namanya-istihadhah/

Iklan