📚 Tafsir Surah Al Baqarah Ayat 14 📚
  
📖 وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَىٰ شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُون

📝 Dan bila mereka berjumpa dengan orang orang yang beriman mereka mengatakan “Kami telah beriman” dan bila mereka kembali kepada setan setan mereka, mereka mengatakan “Sesungguhnya kami sependirian dengan kalian, kami hanyalah berolok olok”
📚 Allah SWT Berfirman, “Apabila orang-orang munafik bersua dengan orang orang mukmin, mereka berkata, “Kami beriman”. Mereka menampakkan kepada kaum muslimin seakan-akan diri mereka beriman dan berpihak atau bersahabat dengan kaum mukmin. Akan tetapi, sikap ini mereka maksudkan untuk mengelabui kaum mukmin dan diplomasi mereka untuk melindungi diri agar dimasukkan ke dalam golongan orang-orang mukmin dan mendapat bagian ghanimah dan kebaikan yang diperoleh kaum mukmin.
Bilamana mereka kembali bersama setan-setannya. Makna yang dimaksud ialah bilamana mereka kembali dan pergi dengan setan-setan mereka tanpa ada orang lain. Lafaz khalau mengandung makna insarafu, yakni kembali, karena ia muta’addi dengan huruf ila untuk menunjukkan fi’il yang tidak disebut dan yang disebut. Di antara ulama’ ada yang mengatakan bahwa ila di sini bermakna ma’a, yakni apabila mereka berkumpul bersama setan mereka tanpa orang lain, akan tetapi, makna yang pertama lebih baik, yaitu yang dijadikan pegangan oleh Ibnu Jarir
👳🏼 As Saddi mengatakan dari Abu Malik, khalau artinya pergi menuju setan-setan mereka. Syayatin artinya pemimpin dan pembesar atau kepala mereka yang terdiri atas kalangan pendeta Yahudi, pemimpin pemimpin kaum musyrik dan kaum munafik. As Saddi di dalam kitab Tafsir-nya mengatakan dari Abu Malik dan dari Abu Shaleh, dari ibnu Abbas, juga dari Murrah Al-Hamdani, dari ibnu Mas’ud serta dari sejumlah sahabat Rosulullah SAW bahwa yang dimaksud dengan setan-setan mereka dalam firman-Nya, “wa iza khalau ila syayatinihin,” ialah para pemimpin kekufuran mereka.

👳🏼 Ad Dahhak mengatakan dari Ibnu Abbas, bahwa makna ayat ialah apabila mereka kembali kepada teman-temannya. Teman-teman mereka disebut setan-setan mereka.

👳🏼 Muhammad ibnu Ishaq mengatakan dari Muhammad ibnu Abu Muhammad, dari Ikrimah atau sa’id ibnu jubair, dari ibnu Abbas mengenai firman-Nya, “Dan apabila mereka kembali kepada setan-setan mereka,” yakni yang terdiri atas kalangan orang-orang Yahudi, yaitu mereka yang menganjurkannya untuk berdusta dan menentang apa yang dibawa oleh Rosulullah SAW.

👳🏼 Mujahid Mujahid mengatakan bahwa makna “syayatinihin” ialah teman-teman mereka dari kalangan orang-orang Munafik dan orang-orang Musyrik.

👳🏼 Qatadah mengatakan, yang dimaksud dengan “syayatinihin” ialah para pemimpin dan para panglima mereka dalam kemusyrikan dan Aliyah, As Saddi, dan Ar Rabi’ ibnu Anas.

👳🏼 Ibnu Jarir mengatakan bahwa “syayatin” artinya segala sesuatu yang membangkang. Adakalanya setan itu terdiri atas kalangan manusia dan Jin sebagaimana dinyatakan di dalam firman-Nya:

“Dan demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagai mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). (QS. Al An ‘am: 112 )
Di dalam kitab Musnad disebut sebuah hadits dari Abu Zar, bahwa Rosulullah pernah bersabda:

“Kami berlindung kepada Allah dari setan-setan manusia dan setan-setan jin” aku bertanya “Wahai Rosulullah, apakah manusia itu ada yang menjadi setan?” Nabi menjawab, “Ya”
“Qolu inna ma’akum”, mereka mengatakan, “Sesungguhnya kami bersama kalian.” menurut Muhammad ibnu Ishaq, dari Muhammad ibnu Abu Muhammad, dari Ikrimah atau Sa’id ibnu jubair, dari ibnu Abbas, disebutkan bahwa maknanya ialah “Sesungguhnya kami sependirian dengan kalian”. “Innama nahnu mustahziun”, sesungguhnya kami hanya mengajak mereka dan mempermainkan mereka.
✒〰〰〰〰〰〰〰

📖Al Faqiir Alfan Muttaqien

 Oleh: Ustadz Alfan Muttaqien
Insya Allah bersambung……..

💫📖💦💫📖💦💫📖💦💫📖💦💫

Iklan