DALIL-DALIL DISYARIATKANNYA NIKAH
——————————————

Dasar hukum tentang disyariatkannya nikah: Al-Kitab, As-Sunnah dan Ijma’.

☝🏼 Dan disyariatkannya nikah telah ditunjukkan oleh beberapa ayat yang banyak:
▪ diantaranya firman Allah ta’ala:
“maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki.” [Qs. An-Nisaa: 3]

▪ Dan firman Allah ta’ala:
“Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian[1] diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan.” [Qs. An-Nuur: 32]

☝🏼 Dan hadits-hadits yang banyak,
▪ diantaranya hadits Ibnu Mas’ud -radhiallahu ‘anhu- dari Nabi beliau bersabda:
“Wahai segenap para pemuda, siapa diantara kalian yang memiliki kemampuan [2] maka hendaklah dia menikah, karena menikah lebih menundukkan pandangan, dan lebih menjaga kemaluan, dan barangsiapa tidak mampu maka wajib atasnya berpuasa; karena nikah baginya adalah tameng”. [3].

▪ Dan hadits Ma’qil bin Yasar -radhiallahu ‘anhu- bahwa rasulullah bersabda:
“Menikahlah dengan wanita yang penuh kasih sayang lagi subur; karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan kalian dihadapan umat-umat”. [4].

☝🏼 Dan kaum muslimin telah sepakat atas disyariatkannya menikah.
__________
[1] kata: الأيامى adalah bentuk jamak dari أيم yang bermakna orang yang tidak memiliki pasangan dari kalangan lelaki, dan orang yang tidak memiliki pasangan dari kalangan perempuan. (An-Nizhom Al-Musta’dzab 2/126).

[2] kata الباءة ialah nikah dan pernikahan, dan maksudnya disini: berbagai pembiayaan pernikahan dan bahan pangan.

[3] HR. Bukhari (5066), dan Muslim (1400), dan yang dimaksud dengan puasa adalah tameng: yaitu sebagai pemutus syahwat nikah.

[4] HR. Abu Dawud (2035) dan Nasaai (6516)

📚 Al-Fiqh Al-Muyassar (1/291)

Iklan