بسم اللّه الرحمن الرحيم
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى عَبْدِهِ وَ رَسُولهِ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ, أَمَّا بَعْدُ

Setiap orang mukmin hendaklah berupaya mencari jalan keselamatan bagi dirinya.

Dan setiap mukmin hendaklah senantiasa beramal dan beramal sebagai sarana untuk menyelamatkan dirinya daripada adzab Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dalam kehidupan ini, saya pernah menemukan orang-orang yang saya begitu kagum dengan mereka dan sikap-sikap mereka.

Saya pernah dalam perjalanan ibadah haji menjadi penterjemah salah seorang Syaikh.

Saya melihat sosok beliau telah tua renta, beliau terkena penyakit pengkapuran pada kakinya dan saya senantiasa menemani beliau dalam perjalanan.

Saya melihat betapa gigihnya beliau dalam berdakwah mengajak manusia kepada jalan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Demi berdakwah, beliau rela untuk masuk daripada satu bus kepada bus lain, menyampaikan misi dakwah kepada jama’ah haji.

Saya berusaha mengikuti beliau, Subhānallāh, membawa microphone kemanapun berada, saya kagum dengan semangat beliau hafizhahullāhu tābaraka Ta’āla.

Setiap kali datang jam’ah haji turun di bandara maka dia segera bergegas mengejar jama’ah tersebut dan berupaya memberikan kepada mereka faidah, mengajak mereka kepada tauhid yang benar, mengajarkan kepada mereka bagaimana tatacara ibadah haji yang benar.

Sungguh mengagumkan!

Suatu ketika saya bertanya:

“Yā Syaikh, bukankah Anda telah tua, bukankah Anda terkena penyakit, membuat Anda sulit dalam berjalan, tapi kenapa Anda begitu bersemangat dalam berdakwah mengajak manusia kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla?

Sementara, wahai Syaikh, saya perhatikan sebagian daripada da’i-da’i mereka hanya sekedar mengisi satu dua kegiatan kemudian dia istirahat santai.

Tapi Anda tidak pernah istirahat, wahai Syaikh, Anda tidak pernah santai wahai Syaikh, apa kiranya motivasi Anda?

Begitu kuatnya Anda berdakwah kemana-mana, padahal Anda mengetahui Anda telah tua dan kaki Anda telah menderita pengkapuran.

Dia mengatakan kepada saya:

“Yā Ahmad, hidup ini kita tidak pernah tahu kapan berakhir dan kitapun tidak pernah tahu pula dari sekian banyak amalan yang kita lakukan, mana yang diterima oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.”

Maka beliau mengatakan:

“Yā Ahmad, jangan-jangan satu patah kata dua patah kata ini, yang kita dapat adzab dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Jangan-jangan langkah-langkah yang kita langkahkan untuk mendakwahi manusia datang ke bus-bus mereka, ada satu dua orang mendapat hidayah, jangan-jangan ini yang menyelamatkan kita, wahai Ahmad, karena kita tidak pernah tahu mana amalan yang dapat menyelamatkan kita.

Sungguh banyak sekali amalan-amalan yang kita lakukan tapi kita tidak tahu mana yang diterima oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Karena amalan kita dipenuhi dengan berbagai macam unsur riya’, ‘ujub/bangga, tapi hal ini tidak membuat kita menyerah kalah.”

Beliau berkata kepada saya mengingatkan:

“Hendaklah Anda selalu senantiasa beramal ibadah, kerjakan terus dan kerjakan terus semua kebaikan dan jangan pernah berhenti.”

Wallāhu a’lam.

“Jangan-jangan satu dua daripada amal ibadah yang di lakukan, pekerjaan yang Anda lakukan itulah yang menjadi penyelamat Anda daripada jalan adzab Allāh Subhānahu wa Ta’āla.”

Sungguh, yakni pesan yang begitu mendalam yang senantiasa saya kenang dalam diri pribadi saya.

Dan semoga saya, anda, kita seluruhnya terus menerus berusaha beramal ibadah beraktifitas mengerjakan semua kebaikan-kebaikan.

Dan mengharapkan semoga satu dua daripada kebaikan tersebut dapat menyelamatkan kita daripada adzab Allāh Subhānahu wa Ta’āla

Demikianlah.

والله تبارك وتعالى أعلم
وصل الله وسلم على نبينا محمد
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
__________________________

Iklan