Jika Hati Seseorang Telah Dipenuhi Sifat Hasad (Kedengkian)

=========

๐Ÿ’ฅBerkata Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah-:

“ูุฅู† ุงู„ุฅู†ุณุงู† ู‚ุฏ ูŠุนุฑู ุฃู† ุงู„ุญู‚ ู…ุน ุบูŠุฑู‡ ูˆู…ุน ู‡ุฐุง ูŠุฌุญุฏ ุฐู„ูƒ ู„ุญุณุฏู‡ ุฅูŠุงู‡ุŒ ุฃูˆ ู„ุทู„ุจ ุนู„ูˆู‡ ุนู„ูŠู‡ุŒ ุฃูˆ ู„ู‡ูˆู‰ ุงู„ู†ูุณุŒ ูˆูŠุญู…ู„ู‡ ุฐู„ูƒ ุงู„ู‡ูˆู‰ ุนู„ู‰ ุฃู† ูŠุนุชุฏูŠ ุนู„ูŠู‡ ูˆูŠุฑุฏ ู…ุง ูŠู‚ูˆู„ ุจูƒู„ ุทุฑูŠู‚ ูˆู‡ูˆ ููŠ ู‚ู„ุจู‡ ูŠุนู„ู… ุฃู† ุงู„ุญู‚ ู…ุนู‡”

“Sungguh kadang-kadang seseorang mengetahui bahwa kebenaran itu berada dipihak selainnya, namun bersamaan dengan hal tersebut ia menentangnya karena sikap hasad (kedengkian) terhadap orang tersebut, atau karena ingin mengharap lebih tinggi kedudukannya dari orang tersebut, atau karena hawa nafsu, sehingga hawa nafsu tersebut membawanya untuk berbuat pelampauan batas kepada orang tersebut, dan memberikan bantahan seluruh pendapat orang tersebut dengan cara apapun padahal didalam hatinya yakin bahwa kebenaran itu ada pada orang tersebut”.
________
๐Ÿ“™Majmu’ Al Fatawa (7/191)

Iklan