10 Manfaat Tidak Berteriak

Hampir 40 hari sejak saya melemparkan tantangan #40HariTakBerteriak. Ada beberapa orangtua yang gigih berusaha terus, meskipun saya tahu betapa sulit menahan diri untuk tidak berteriak — jika membaca status-status mereka. Untuk seluruh usaha Anda, saya mengirimkan tabik dan takzim sedalam-dalamnya. Cinta Anda kepada anak-anak dan diri sendiri sungguh luar biasa.

Bagi mereka yang telah puluhan hari tidak berteriak itu tentu mulai merasakan manfaat luar biasa. Apa yang Anda temukan? Apa yang Anda pelajari dari tidak berteriak itu? (Saya pribadi pernah melakukannya puluhan tahun lalu dan kemudian mengajukan pertanyaan yang sama)

1. Ternyata, berteriak bukanlah satu-satunya hal yang sudah tidak Anda lakukan selama 40 hari ini. Anda juga tak lagi mengalami sakit perut dan pusing kepala. Anda juga tak lagi mudah marah. Anda juga tidak cerewet lagi. Dan…Anda juga mulai jarang mendengar anak-anak Anda berteriak. Anda tak lagi mendengar jeritan, “Mama jahat!” atau “Mama nggak sayang sama aku!” Ya, Anda dengan cepat belajar bahwa ada banyak hal positif lahir dari tidak berteriak — termasuk rumah yang lebih tenang.

2. Anak-anakku adalah ‘penonton terpenting.’ Ketika Anda tak lagi berteriak, Anda mulai menyadari bahwa lebih mampu merasa sebagai Ibu/Ayah yang sabar dan penuh rasa cinta. Padahal, dari dulu Anda memang pribadi yang penuh rasa cinta; hanya saja itu baru terjadi ketika di depan umum; ketika ada banyak orang yang menilai diri Anda; ketika ada banyak orang yang melihat. Jarang sekali ketika bersendiri, Anda merasakan kedamaian dan menerima diri sepenuhnya seperti setelah tidak berteriak itu. Padahal, selama ini Anda sudah dan selalu punya orang-orang yang terus menerus melihat diri Anda: anak-anak Anda. Padahal, merekalah penonton terpenting dalam hidup Anda. Kepada merekalah Anda perlu menunjukkan bahwa sesungguhnya Anda dapat menjadi orangtua yang penuh cinta kasih, orangtua yang tidak berteriak. Tidakkah Anda ingin anak-anak Anda menyatakan kepada dunianya, “Mamaku adalah ibu terbaik sedunia!” (Papaku adalah ayah terbaik di dunia). Ya, Anda memang yang terbaik karena Anda sudah membuktikannya selama beberapa hari ini. Dan Anda dapat melakukannya selamanya.

3. Anak-anak itu bukan sekadar anak-anak, mereka juga manusia biasa. Seperti Anda, anak-anak juga mengalami “hari buruk” dan masa-masa indah. Beberapa hari mereka menjadi anak yang menyenangkan dan manis, yang mau mendengar dan melakukan nasehat orangtuanya. Di hari-hari lainnya, mereka menjadi lebih sulit dan menggerutu. Menolak meletakkan sepatunya di rak, mencoret-coret tembok walau sudah dilarang, dan menjatuhkan kotak susu besar dari kulkas. Kita mesti ingat bahwa mereka masih terus belajar, terus tumbuh, dan terus berusaha mengatasi “hari-hari buruk” mereka sendiri. Kita hanya perlu mengingat bahwa meneriaki mereka bukan hanya tidak membantu mereka mengatasi problem mereka, tetapi juga sama persis dengan diri kita sendiri, mereka juga tidak suka diteriaki.

4. Anda tidak akan pernah dapat “selalu berhasil” mengontrol tindakan dan perilaku anak-anak Anda, tetapi Anda selalu dapat mengontrol reaksi Anda. Tak peduli betapa Anda berusaha keras mencoba berbagai tips dan trik agar anak Anda menjadi disiplin, tetapi sesekali anak-anak tetap melakukan apa yang mereka inginkan. Maka, Andalah yang sanggup memutuskan apakah akan berteriak “Bereskan mainanmu” ketika mereka tak mau mendengar perintah Anda, atau memutuskan untuk menyingkir sebentar, mengambil nafas dalam, dan kembali dengan pendekatan baru. (Catatan: pergi menjauh dan ambil nafas dalam benar-benar bisa membuat semua mainan itu dibereskan dengan lebih cepat daripada berteriak).

5. Berteriak ternyata tidak efektif. Dalam melakukan tantangan #40HariTakBerteriak tentu Anda pernah mengalami beberapa kali mencoba berhenti saja ketika Anda merasa bahwa berteriak lebih gampang dan cepat daripada pendekatan-pendekatan yang lebih positif seperti menarik nafas dalam. Tetapi di lubuk hati Anda tentu mengetahui bahwa berteriak bukan hanya tidak berhasil, tetapi malah membuat keadaan menjadi makin sulit dikontrol. Anak-anak makin sulit memahami apa yang Anda katakan. Anak-anak makin sulit mengetahui apa yang sebenarnya Anda inginkan. Bagaimana mungkin anak-anak mendengar apa yang Anda “katakan” seperti “Cepat, cepat, ambil ransel kalian, sepatumu, jaketmu, jangan lupa bekal kalian, ambil pelan-pelan, jangan tumpah, ayo yang cepat, lakukan sendiri!” bila kata-kata itu seperti air kumur-kumur yang ditumpahkan ke wajah? Bagaimana mungkin mereka memahami deretan perintah yang diteriakkan kencang-kencang yang membuat mereka ingin menangis saja?

6. Saat-saat indah benar-benar terjadi ketika Anda tidak berteriak. Dulu sekali, ketika anak saya masih balita (ia sekarang sudah bekerja), suatu malam saya mendengar langkah-langah kaki keluar dari kamar anak-anak. Meski saya jengkel karena “me-time” saya terganggu, saya mencoba tetap tenang dan mengatakan kepadanya agar ia kembali ke tempat tidur. Ketika saya menyelimutinya kembali, ia berkata, “Pak, apa Bapak tetap cinta padaku kalau aku ke surga duluan, karena kalau Bapak yang duluan, aku akan tetap mencintaimu.” Air mata masih menetes ketika saya menulis kembali peristiwa ini. Saya jamin, kalau saat itu saya berteriak “Sana kembali tidur!” maka kami berdua takkan pernah mengalami percakapan manis yang sangat penting itu.

7. Tidak berteriak itu memang berat, tetapi DAPAT dan SANGGUP Anda lakukan. Saya tidak akan mengatakan bahwa tidak berteriak itu mudah, tetapi kreatif menciptakan reaksi-reaksi alternatif jelas lebih mudah dan lebih dapat dilakukan. Dan setelah mencoba berteriak di kamar mandi, menepuk-nepuk dada seperti gorilla, menyanyikan Lalala, dan mengenakan bandana ungu muda bertuliskan “No Yell” sebagai pengingat tak boleh berteriak, akhirnya saya merasa bahwa tidak berteriak itu cukup mudah. Tentu, dulu saya juga merasa aneh dan tolol melakukan alternatif-alternatif itu, tetapi semua itu mampu membuat saya tetap menahan diri. Saya pribadi punya kata favorit: “paling tidak” (bukan “untung”). Dua kata ini memberi saya perspektif baru dan mengingatkan diri saya untuk tetap tenang. Saya menggunakan dua kata itu dalam tiap situasi yang mengganggu saya. “Ia hanya menjatuhkan sekotak susu di lantai…paling tidak itu bukan botol kaca, dan paling tidak ia berusaha membantu meletakkannya kembali ke kulkas.”

8. Seringkali, saya lah yang bermasalah, bukan anak-anak saya. Pelajaran utama yang saya petik dari usaha tidak berteriak adalah “Bukan anak-anak yang bermasalah, aku sendiri yang punya masalah.” Saya dengan cepat menyadari bahwa seringkali saya ingin berteriak karena saya kemarin bertengkar dengan istri saya, dibebani setumpuk pekerjaan yang sudah mendekati tenggat waktu, letih dan lelah yang tiada habisnya, atau uang bulanan sudah sangat menipis, bukan karena anak-anak saya bertingkah “buruk.” Saya belajar  mengakui persoalan-persoalan saya sendiri, misalnya dengan menyebutkannya secara lisan, “Halo Dono, kamu sedang dikejar-kejar deadline dan kamu perlu makan cokelat, kamu tidak marah kepada anak-anakmu, ucapkan kata-kata yang lembut.” Cara itu cukup efektif membuat “teriakan” yang sudah akan menyembur tersimpan kembali.

9. Merawat diri akan membantu Anda tidak berteriak. Anda selalu hebat dalam merawat dan memedulikan orang lain; entah itu anak-anak maupun pasangan. Tetapi apakah Anda sudah merawat diri Anda sendiri secara memadai? Jika Anda sudah menyadari bahwa pemicu-pemicu pribadi (seperti merasa letih dengan segala beban, merasa jauh dari teman-teman) yang membuat Anda berteriak, maka mulailah untuk merawat diri Anda. Tidurlah cukup dengan tidak berangkat tidur larut malam, berolahraga ringan setiap hari, makan dengan menikmati dan penuh rasa syukur, menelpon teman atau sahabat, dan yang terpenting beritahu diri Anda sendir bahwa “tidak apa-apa koq kalau tidak sempurna.” Merawat diri tak hanya membantu diri Anda untuk tidak berteriak, tetapi juga akan membuat Anda menjadi lebih bahagia, lebih santai, dan lebih mampu mencintai, serta bahkan merasa lebih DICINTAI. Wow, manfaat tidak berteriak ternyata lebih dari sekadar untuk parenting. Coba Anda amati diri Anda sendiri setelah tidak berteriak beberapa hari: bukankah Anda lebih sering bertindak baik dan lembut kepada orang lain? Bukankah Anda lebih mampu  menghadapi situasi berat? Bukankah komunikasi Anda dengan pasangan juga membaik?

10. Tidak berteriak membuat Anda merasa menakjubkan. Mari kita minta kesaksian kepada para orangtua yang sudah melakukan tantangan #40HariTakBerteriak. Apakah Anda merasa lebih bahagia? Apakah Anda merasa lebih tenang dan damai? Apakah hidup terasa lebih ringan? Apakah Anda berangkat tidur dengan beban yang lebih ringan? Apakah Anda bangun pagi dengan perasaan lebih yakin? Apakah Anda merasa lebih dapat menjadi orangtua yang lebih memahami anak-anak Anda, mengerti kebutuhan mereka? Apakah Anda merasa menjadi orangtua yang lebih sabar dan lebih penuh rasa cinta kasih? Dan bagaimana perasaan anak-anak Anda? Tentu mereka merasa menjadi anak-anak yang lebih bahagia dan juga lebih tenang. Ya, saya yakin, semua anggota group ini ingin membaca kesaksian “Saya berhenti berteriak dan bukan hanya saya merasa bahagia, tetapi anak-anak saya sekarang menjadi lebih tenang DAN berperilaku lebih baik.” Tentu saja, mereka masih anak-anak. Sesekali mereka masih tantrum, tetapi jauh lebih sebentar. Karena Anda kini menjadi pribadi yang lebih tenang, maka Anda dapat berpikir rasional untuk menyelesaikan persoalan sebelum masalah itu menjadi krisis. Yang jelas, bukankah terasa menyenangkan, bahkan fenomenal, mendengar anak Anda lebih sering mengucapkan, “Aku sayang Ibu Ayah

Iklan