Menjaga Istiqamah

Republika Online – Khazanah

“Bersikaplah istiqamah, namun kalian tidak akan dapat menghitung nilai istiqamah. Ketahuilah, bahwa amalan kalian yang terbaik adalah shalat. Yang dapat memelihara wudhu hanyalah orang beriman”. (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

Hadis ini mengungkapkan betapa beratnya bersikap istiqamah, sehingga manusia tidak akan mampu melakukannya dengan sempurna. Tak mengherankan memang, karena keimanan setiap Mukmin “terkena” hukum yaziidu wa yanqus, akan bertambah dan berkurang; naik dan turun. Boleh jadi, ada saat-saat iman kita sedang naik, sehingga bersemangat dalam ibadah. Tapi, ketika iman sedang menurun, semangat beribadah pun menjadi lemah.

Dalam Islam, penurunan semangat beribadah ini disebut futur. Pada stadium rendah, futur bisa muncul berupa perasaan malas beribadah, melambat-lambatkan berbuat baik, atau kurang peka terhadap peluang amal. Dalam stadium tinggi (kronis), kondisi futur menyebabkan seseorang berhenti beribadah, melakukan dosa besar, hingga akhirnya jauh dari Allah SWT.

Walau kemungkinan terkena futursangat besar, tapi kita dianjurkan untuk tetap berlaku istiqamah dalam kebenaran sesuai kemampuan diri. Allah SWT telah menyediakan perangkat-perangkat dalam diri sehingga kita mampu mengikuti Rasulullah SAW, dengan standar dan kemampuan kita. Kalau tidak bisa semuanya, maka sebagian harus kita perjuangkan. Contoh, Rasul bisaqiyamullail semalam sentuk sampai kakinya bengkak; bila kita tak mampu seperti itu, minimal kita tidak sampai meninggalkannya.

Secara bahasa istiqamah berarti tegak dan lurus. Ada pula yang mengatakan bahwa istiqamah berarti “jalan yang lurus” atau “jalan yang berada dalam satu garis lurus”. Dari definisi ini terlihat adanya hubungan antara istiqamah dengan kebenaran. Alquran menyebutnya dengan shiratal mustaqimatau jalan yang lurus. Tunjukkilah kami ke jalan yang lurus (QS Al Fatihah: 6).

Hal ini diperkuat oleh pendapat Ar Raghib yang menyatakan bahwa seseorang disebut istiqamah bila ia tetap berada di jalan yang lurus. Itulah arti firman Allah SWT, Sesungguhnya orang-orang yang berkata “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap lurus (istiqamah) dalam keimanannya (QS Fushilat: 30).

Secara umum, sikap istiqamah menyangkut tiga hal, yaitu istiqamah dengan lisan, istiqamah dengan hati, dan istiqamah dengan jiwa. Istiqamah dengan lisan artinya kita bertahan untuk tidak mengucapkan hal-hal yang tidak bermanfaat serta dosa, dan menyibukkan diri dengan perkataan yang baik dan benar. Rasul SAW bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam” (HR Bukhari Muslim).

Istiqamah dengan hati maksudnya selalu melakukan tajdid an-niyat, memperbaharui niat. Seseorang yang hatinya istiqamah tidak pernah melakukan suatu amal, kecuali ia meniatkannya hanya untuk Allah. Hal ini sesuai dengan pendapat Utsman bin Affan RA bahwa istiqamah adalah keikhlasan. Sedangkan istiqamah dengan jiwa mengandung arti ketetapan diri untuk terus menerus melkaukan ibadah dan ketaatan pada Allah.

Walau tampak terpisah, ketiganya berhubungan antara satu sama lain. Disabdakan oleh Rasul SAW dari Anas bin Malik, “Belum dinamakan lurus keimanan seseorang, sehingga lurus pula hatinya; dan belum dinamakan lurus hatinya, sehingga lurus pula lisannya” (HR Ahmad). Karena itu, seseorang bisa dikatakan istiqamah dalam hidupnya bila ia senantiasa lurus dalam hidupnya, konsisten, taat asas, pantang menyerah, dan selalu mengambil sikap pertengahan dalam segala hal; dalam wujud ucapan maupun perbuatan. Wallahu a’lam bish-shawab.

Iklan