QS. Al-Haqqoh (Bag.4)

Dr. Saiful Bahri, M.A

📚Al- Qur’an Sebagai Wahyu dan Pedoman Hidup

Untuk sebuah pengukuhan, tidak tanggung-tanggung Allah bersumpah dengan segala ciptaan-Nya yang ada. Baik yang bisa dilihat manusia ataupun yang tidak nampak oleh kasad mata.

📌”Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat, dan dengan apa yang tidak kamu lihat.  Sesungguhnya Al Quran itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia”. (QS. 69: 38-39)

Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan kisah Umar bin Khattab ketika sedang mengintai Nabi Muhammad yang sedang shalat di depan ka’bah ([10]). Saat beliau membaca al-Qur’an Umar membatin ini adalah perkataan seorang penyair. Nabi Muhammad membaca ayat ke-41.

📌”Dan Al Quran itu bukanlah perkataan seorang penyair. sedikit sekali kamu beriman kepadanya”

Umar tersentak. Kemudian dia berpikir Muhammad adalah tukang tenung yang tahu pikiran manusia. Nabi Muhammad melanjutkan ayat berikutnya.

📌”Dan bukan pula perkataan tukang tenung. sedikit sekali kamu mengambil pelajaran daripadanya”

Umar terdiam. Benih-benih hidayah mulai bersemai dalam hatinya. Dan akhirnya kita mengetahui kisah keislamannya setelah sebelumnya menggerebek kediaman adiknya, Fatimah yang sedang belajar al-Qur’an dan Umar kemudian menangis setelah Fatimah membacakan surat Thâha.

📌Karena memang, ”Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam” (QS. 69: 43) dan wahyu tersebut merupakan pedoman bagi para manusia. Bahkan, Allah pun memberi ancaman jika Nabi Muhammad mengada-ada dan mengatakan apa yang bukan diwahyukan Allah sebagai wahyu-Nya.

📌 ”Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) kami. Niscaya benar-benar kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar kami potong urat tali jantungnya” (QS. 69: 44-46)

Dan hanya orang yang mendapat hidayah saja yang mampu menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman hidupnya. ”Dan Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar suatu pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa” (QS.69: 48). Allah juga Maha Tahu bahwa pasti selalu ada di antara makhluk-Nya yang mendustakan risalah-Nya. Tapi kelak semua itu berujung penyesalan yang tak tergambarkan. ”Dan Sesungguhnya kami benar-benar mengetahui bahwa di antara kamu ada orang yang mendustakan(nya). Dan Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar menjadi penyesalan bagi orang-orang kafir (di akhirat)”. (QS. 69: 49-50)

📚Penutup: Bertasbihlah; Raihlah Prestasi

Kembali Allah mengingatkan kita untuk bertasbih kepada-Nya di akhir surat ini. ”Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Maha besar” (QS. 69: 52). Karena tasbih sebagai bentuk pengakuan terhadap kebesaran Allah yang menurunkan Al-Qur’an sekaligus sebagai penyucian diri dari kealpaan, kelalaian dan akan semakin menjadikan Allah bersimpati dan menyayangi kita.

Semoga kita dapat menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman dan pelajaran sehingga hidup kita makin terarah mendekat kepada ridho dan cinta-Nya. Amin.

—————————————————————————-

([1]) kata al-Hâqqah hanya disebut tiga kali dalam surat ini saja (lihat: Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd Qader, Ma’alim Suar al-Qur”an, Cairo: Universitas Al-Azhar, Cet.I, 2004M/1424H, Vol. 2, hal. 695)

([2]) Sebagaimana disebutkan Imam Ibnu Jarir ath-Thabary dalam tafsirnya Jâmi’u al-Bayân, Beirut: Dar Ihya Turats al-Araby, Vol. XXIV, hal. 58. Juga disebut oleh Imam al-Qurthuby (al-Jami’ li Ahkami al-Qur’an, Cairo: Darul Hadits, Vol. IX, hal.468)

([3]) Syiekh Muhammad Ali ash-Shabuny, Ijazu al-Bayan fi Suar al-Qur’an, Cairo: Dar Ali ash-Shabuny, 1986 M/1406 H, hal 257-258

([4]) sebagaimana pendapat Ibnu Abbas, dan muridnya Qatadah (lihat: Imam al-Baghawy, Ma’alim at-Tanzil, Cairo: Dar al-Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1424 H, Vil. IV, hal.355)

([5]) Imam Ibnu Katsir, Tasfir al-Qur’an al-’Azhim, Cairo: al-Maktabah al-Qayyimah, Vol.IV, hal. 535

([6]) Seperti pendapat Imam Ath-Thabary, al-Wahidy, al-Baghawy, al-Qurthuby, dan al-Alusy (lihat: tesis penulis,Kitab Lawami’ al-Burhan wa Qawathi’ al-Bayan fi-Ma’any al-Qur’an, Cairo: Universitas Al-Azhar, Vol. II, hal. 695)

([7]) Lihat ayat 37 (Surat al-Hâqqah)

([8]) lihatlah harapan mereka yang direkam Allah dalam ayat 27.

([9]) Abu Hayyan Muhammad bin Yusuf, Tasfir al-Bahr al-Muhith, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, Cet.I, 2001 M/1422 H, Vol.VIII, 320

([10]) Imam Ibnu Katsir, Op.Cit, Vol. IV, hal 540-541

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
http://www.iman-islam.com

Iklan